Pages

Adorasi Sakramen Maha Kudus

“Dari semua devosi, penyembahan kepada Yesus dalam Sakramen Maha Kudus adalah devosi yang terbesar setelah sakramen- sakramen, dan sesuatu yang paling berkenan kepada Allah dan yang paling berguna bagi kita.”~St. Alfonsus Liguori~

Bunda Maria sebagai Bunda semua umat beriman.

Hubungan orang Katolik dengan Maria.

Devosi Kerahiman Ilahi

Yesus, Engkaulah Andalanku!

Bunda Maria, Bunda Sakramen Mahakudus

Sekolah Maria "Wanita Ekaristi"

Hidup yang Diubahkan Kristus Melalui Ekaristi

Yesus mengubah kita dari dalam.

Rabu, 26 Desember 2012

Pesan Paus Benediktus XVI Bagi Kota Dan Dunia (URBI ET ORBI), 25 Desember 2012


Pesan Paus Benediktus XVI Bagi Kota Dan Dunia 
(URBI ET ORBI), 25 Desember 2012 


Saudara dan saudariku yang terkasih di Roma dan di seluruh dunia, selamat Natal bagi kamu dan keluargamu!

Dalam Tahun Iman ini, saya mengungkapkan salam Natal dan niat baik saya dalam kata-kata yang diambil dari salah satu Mazmur: "Kebenaran akan tumbuh dari bumi". Sebenarnya, dalam teks Mazmur, kata-kata ini berada di masa yang akan datang : "Kasih dan kebenaran akan bertemu, keadilan dan damai sejahtera akan bercium-ciuman. Kebenaran akan tumbuh dari bumi, dan keadilan akan menjenguk dari langit. Bahkan TUHAN akan memberikan kebaikan, dan negeri kita akan memberi hasilnya. Keadilan akan berjalan di hadapan-Nya, dan akan membuat jejak kaki-Nya menjadi jalan” (Mzm 85:11-14).

Hari ini kata-kata kenabian ini telah digenapi! Dalam Yesus, yang dilahirkan di Betlehem dari Perawan Maria, kebaikan dan kebenaran sungguh telah bertemu, keadilan dan damai telah bercium-cium, kebenaran telah tumbuh dari bumi dan keadilan telah menjenguk dari langit. Santo Agustinus menjelaskan dengan singkat secara mengagumkan: "Apakah kebenaran itu? Putera Allah. Apakah bumi itu? Daging. Tanyakan dari mana Kristus telah dilahirkan, dan kamu akan melihat kebenaran telah tumbuh dari bumi ... kebenaran telah lahir dari Perawan Maria"(dalam Mzm 84:13). Dan dalam suatu khotbah Natal ia mengatakan bahwa “dalam pesta tahunan ini kita merayakan hari itu ketika nubuat tersebut tergenapi: ‘Kebenaran akan tumbuh dari bumi, dan keadilan akan menjenguk dari langit'. Kebenaran, yang ada di pangkuan Bapa telah tumbuh dari bumi, berada di dalam rahim seorang ibu juga. Kebenaran yang memerintah seluruh dunia telah tumbuh dari bumi, yang akan diadakan dalam pelukan seorang perempuan... Kebenaran yang tidak dapat dimuat surga telah tumbuh dari bumi, diletakkan dalam sebuah palungan. Untuk kepentingan siapa dengan sangat mulia Allah menjadi sangat hina? Tentu saja tidak untuk diri-Nya sendiri, tetapi untuk kepentingan besar kita, jika kita percaya" (Sermones,185,1).

"Jika kita percaya". Di sini kita melihat kekuatan iman! Allah telah melakukan segalanya, Ia telah melakukan sesuatu yang mustahil: Ia menjadi manusia. Seluruh kuat kasih-Nya telah mengerjakan sesuatu yang melampaui semua pemahaman manusia: Yang Tak Terbatas telah menjadi seorang anak, telah memasuki keluarga manusia. Tetapi hingga kini, Allah yang sama ini tidak dapat masuk ke dalam hati saya kecuali saya membuka pintu bagi-Nya. Porta Fidei! Pintu Iman! Kita dapat menjadi takut dengan ini, berkebalikan dengan kemahakuasaan kita. Kemampuan manusia untuk mendekati Allah ini dapat membuat kita takut. Tapi lihatlah kenyataan yang mengusir pikiran suram ini, harapan yang mengatasi ketakutan: kebenaran telah tumbuh! Allah lahir! "Tanah telah memberi hasilnya" (Mzm 67:7). Ya, ada bumi yang baik, bumi yang sehat, suatu bumi yang dibebaskan dari semua keegoisan dan semua kekurangterbukaan. Di dunia ini ada tanah yang baik yang telah Allah persiapkan, sehingga Ia memungkinkan datang untuk tinggal di antara kita. Sebuah tempat tinggal untuk kehadiran-Nya di dunia. Bumi yang baik ini ada, dan hari ini juga, pada tahun 2012, dari bumi ini kebenaran telah tumbuh! Akibatnya, ada harapan di dunia, sebuah harapan yang dapat kita percayai, bahkan pada saat-saat yang paling sulit dan dalam situasi yang paling sulit. Kebenaran telah tumbuh, membawa kebaikan, keadilan dan perdamaian.

Ya, semoga perdamaian tumbuh bagi rakyat Suriah, yang sangat terluka, dan terpecah oleh suatu konflik yang tidak menghindarkan juga kaum berdaya dan menuai korban yang tidak bersalah. Sekali lagi saya menghimbau untuk mengakhiri pertumpahan darah, jalan masuk yang lebih mudah untuk kelegaan para pengungsi dan kaum terlantar, dan berdialog dalam pencarian solusi politik bagi konflik tersebut.

Semoga damai tumbuh di Tanah di mana Penebus dilahirkan, dan semoga Ia memberikan Israel dan Palestina keberanian untuk mengakhiri konflik dan perpecahan bertahun-tahun, dan untuk memulai dengan tegas jalan negosiasi.

Di negara-negara Afrika Utara, yang mengalami transisi besar dalam pencarian masa depan yang baru - dan terutama tanah Mesir yang terkasih, yan diberkati oleh masa kanak-kanak Yesus - semoga para warganegara bekerja sama untuk membangun masyarakat yang didasarkan pada keadilan dan penghormatan terhadap kebebasan dan martabat setiap orang.

Semoga damai tumbuh di Benua Asia yang luas. Semoga Kanak-kanak Yesus memandang dengan ramah orang-orang yang tinggal di dataran tersebut dan, khususnya, kepada semua orang yang percaya kepada-Nya. Semoga Sang Raja Damai memalingkan pandangan-Nya kepada para pemimpin baru dari Republik Rakyat Cina karena tugas mulia yang menanti mereka. Saya mengungkapkan harapan saya bahwa, dalam memenuhi tugas ini, mereka akan menghargai peran agama-agama, dalam rasa hormat untuk masing-masing agama, sedemikian rupa sehingga mereka dapat membantu untuk membangun masyarakat persaudaraan bagi kepentingan Rakyat Cina yang mulia dan seluruh dunia .

Semoga kelahiran Kristus mendukung kembalinya perdamaian di Mali dan kerukunan di Nigeria, di mana tindakan biadab terorisme terus menuai korban, khususnya di kalangan Kristiani. Semoga Sang Penebus membawa pertolongan dan kenyamanan kepada para pengungsi dari bagian timur Republik Demokratik Kongo, dan mengaruniakan perdamaian pada Kenya, di mana serangan brutal telah melanda penduduk sipil dan tempat-tempat ibadah.

Semoga Kanak-kanak Yesus memberkati sejumlah besar umat beriman yang merayakan-Nya di Amerika Latin. Semoga Ia meningkatkan kebajikan manusiawi dan Kristiani mereka, menopang semua orang yang dipaksa untuk meninggalkan keluarga dan tanah mereka, dan meneguhkan para pemimpin pemerintah dalam komitmen mereka untuk pembangunan dan melawan kejahatan.

Saudara dan saudariku yang terkasih! Kebaikan dan kebenaran, keadilan dan perdamaian telah bertemu, mereka telah menjadi menjelma dalam Anak yang dilahirkan Maria di Betlehem. Anak itu adalah Putera Allah; Ia adalah Allah yang muncul dalam sejarah. Kelahiran-Nya adalah sebuah kehidupan baru yang berbunga bagi seluruh umat manusia. Semoga setiap tanah menjadi tanah yang baik yang menerima dan menumbuhkan kebaikan dan kebenaran, keadilan dan perdamaian. Selamat Natal untuk kalian semua!

Pax et Bonum


~ Dikutip dari : http://www.facebook.com/gerejakatolik/posts/10151599015439638 ~

Selasa, 25 Desember 2012

Akankah ada Ruang Bagi Yesus? Refleksi Natal Paus Benediktus XVI


Akankah ada Ruang Bagi Yesus? Refleksi Natal Paus Benediktus XVI
By Cornelius


Tadinya saya juga ingin membuat suatu refleksi singkat tentang ayat berikut : “Tidak ada tempat bagi mereka di dalam penginapan” (Lukas 2 : 7). Namun, ternyata dalam Homili Misa Malam Natal, Paus Benediktus XVI juga berefleksi atas ayat tersebut. Jadi ini saya hadirkan kutipan homili beliau yang membahas hal tersebut, semoga bermanfaat bagi kita semua :

Allah membuat dirinya menjadi anak-anak agar kita dapat mencintai Ia, agar kita berani mencintai Ia, dan sebagai anak yang dengan percaya membiarkan dirinya diambil ke dalam tangan kita. Seolah-olah Allah sedang berkata : Aku tahu bahwa kemuliaanku membuatmu takut, dan bahwa kamu mencoba menyatakan dirimu dihadapan kemegahan-Ku. Jadi sekarang aku datang kepadamu sebagai anak-anak, agar kamu dapat menerima dan mencintai aku.

Saya juga berulang kali hampir terpukul oleh komentar penulis Injil bahwa tidak ada ruang bagi mereka di dalam penginapan. Secara tak terhindarkan, pertanyaan muncul, apa yang akan terjadi bila Yoseph dan Maria mengetuk di pintu rumahku. Akankah ada ruang bagi mereka? Dan ini terjadi pada kita bahwa Santo Yohanes mengambil kesempatan ini untuk berkomentar tentang kurangnya tempat di penginapan, yang mendorong Keluarga Kudus pergi ke kandang; ia mengeksplorasi lebih dalam dan tiba pada inti permasalahan ketika ia menulis :”Ia kembali ke rumahnya, dan orang-orangnya tidak menerima Ia” (Yoh 1 : 11)

Pertanyaan moral besar tentang sikap kita terhadap mereka yang tak memiliki rumah, terhadap para pengungsi dan migran, menambil dimensi yang lebih mendalam : Apakah kita sungguh memiliki ruang bagi Allah ketika Ia ingin masuk ke rumah kita? Apakah kita memiliki waktu dan ruang bagi-Nya? Bukankah sesungguhnya kita berbalik dari Allah sendiri? Kita mulai melakukannya ketika kita tidak memiliki waktu bagi Dia.

Semakin cepat kita bisa bergerak, semakin efisienlah peralatan yang menghemat waktu kita , semakin sedikit waktu yang kita miliki. Dan Allah? Pertanyaan tentang Allah tidak pernah terlihat mendesak. Waktu kita sudah penuh sama sekali. Tapi persoalan masih berjalan lebih mendalam. Apakah Allah sungguh memiliki tempat dalam pikiran kita? Proses berpikir kita disusun sedemikian rupa agar ia dengan mudah tidak seharusnya ada. Bahkan bila ia tampaknya mengetuk di pintu pikiran kita, Ia harus dijelaskan.

Bila pikiran diangap serius, ia harus disusun sedemikian rupa agar “Hipotesis Allah” menjadi tak berguna. Tidak ada ruang bagi-Nya. Kita menginginkan diri kita. Kita menginginkan apa yang bisa kita genggam, kita meinginkan kebahagiaan yang ada dalam jangkauan kita, kita menginginkan rencana dan tujuan kita berhasil. Kita begitu “penuh” dengan diri kita sehingga tidak ada ruang yang tersisa bagi Allah. Dan itu artinya tidak ada ruang bagi orang lain juga, bagi anak-anak, bagi orang miskin, dan bagi orang asing.

Dengan merefleksikan perkataan sederhana tentang kurangnya ruang di penginapan, kita telah memahami betapa perlunya bagi kita mendengarkan anjuran St. Paulus :  “Berubahlah oleh pembaharuan budimu” (Roma 12 : 2). Paulus berbicara tentang pembaharuan, tentang membuka intelek kita (nous), tentang cara pandang yang menyeluruh bagaimana kita melihat dunia dan diri kita.

Pertobatan yang kita perlukan harus sungguh mencapai ke dalam kedalaman hubungan kita dengan realitas. Mari kita memohon kepada Tuhan agar kita menjadi sadar akan kehadiran-Nya, agar kita dapat mendengar betapa lembut namun bertubi-tubi ia mengetuk di pintu keberadaan dan kehendak ktia. Mari kita memohon agar kita bisa menyediakan ruang bagi Ia didalam diri kita, agar kita dapat mengenali Ia juga yang melalui mereka Ia berbicara kepada kita : anak-anak, orang yang menderita, orang yang ditinggalkan, mereka yang dikucilkan dan orang miskin di dunia ini. (Sumber)

Senin, 24 Desember 2012

Menjelang Natal, Hati Mgr. Pujasumarta Was-Was Karena Ancaman Kekerasan


Menjelang Natal, Hati Mgr. Pujasumarta Was-Was Karena Ancaman Kekerasan


SEMARANG (PEN@ Indonesia) – Ketika sedang mengadakan retret di Rumah Retret Santa Maria Tawangmangu, Uskup Agung Semarang Mgr Johannes Pujasumarta mengungkapkan rasa keprihatinan menjelang setiap ada perayaan hari besar, juga yang menyangkut hari-hari besar umat beragama, termasuk perayaan Natal 2012.

“Hati saya menjadi was-was. Saya masih ingat peristiwa yang terjadi menjelang Natal 2011 yang lalu, yaitu peristiwa vandalisme, pemenggalan patung Maria Pawitra, Tawangmangu, oleh beberapa orang yang sampai sekarang belum diketahui siapa mereka itu,” tulis Mgr Pujasumarta dalam pujasumarta.web.id saat mengadakan retret dari tanggal 18 hingga 23 Desember 2012.

“Ancaman kekerasan semacam itu terjadi lagi, bahkan diperkeruh dengan fatwa yang tidak bersahabat dari sejumlah pemuka agama,” tegas Mgr Pujasumarta seraya menambahkan bahwa suasana itu menyebabkan aparat keamanan dan seluruh masyarakat meningkatkan kewaspadaannya agar situasi aman dan terkendali. 

Dalam negara Pancasila, kata Sekretaris Jenderal KWI itu, yang seharusnya terjadi adalah perayaan keagamaan merupakan suatu yang wajar dilakukan oleh umat beragama sesuai dengan kepercayaan dan keyakinan. 

“Bila itu tidak terjadi, bisa kita katakan, bahwa masyarakat kita sekarang ini sedang sakit, sakit secara rohani. Maksud saya, pengalaman rohani akan Allah tidak kita miliki secara benar. Bahkan ekspresi pengalaman itu dalam beragama mengalami deviasi, penyimpangan,” tegas Mgr Pujasumarta.

Uskup agung itu juga bertanya, “Bagaimana mungkin terjadi orang berseru "Tuhan, Tuhan", tetapi perilakunya bertentangan dengan seruannya itu, dengan membenci orang-orang yang berbeda agamanya?”

Dari deviasi beragama itu, jelas Mgr Pujasumarta, terjadilah kondisi masyarakat yang tuna adab. “Penyakit rohani itu berdampak pada segala segi kehidupan masyarakat kita. Etika dan moral sosial rusak, sangatlah lemah sikap saling mengasihi dan menghormati satu sama lain. Orang menjadi mati rasa terhadap nasib orang lain.”

Penyakit masyarakat dewasa ini, lanjut uskup agung, diperparah oleh karena keserakahan yang tampak pada merajalelanya korupsi yang seperti kanker merusak seluruh jaringan tubuh masyarakat kita. “Orang mengatakan, terjadi dalam masyarakat kita "homo homini lupus", manusia menjadi serigala bagi manusia lain. Ah, sungguh mengerikan!” kata Mgr Pujasumarta.

Pesan pokok Natal, menurut Mgr Pujasumarta, ialah dalam situasi yang mengerikan tersebut lahirlah seorang anak manusia, yang bersedia hadir sebagai keselamatan bagi manusia lain. “Ia adalah Firman yang menjadi manusia, yang bersedia menjadi keselamatan bagi manusia lain, menjadi homi homini salus.”

Anak Manusia itu lahir di Bethlehem, yang artinya 'rumah roti’, kata Mgr Pujasumata yang menulis pesan ini saat sedang mengadakan retret dia beri judul ‘Retret menuju Bethlehem’. Dengan mengundurkan diri dari kesibukan sehari-hari, Mgr Pujasumarta bermaksud “bisa menemukan makna hidup saya, dan menemukan dalam diri saya sendiri "Bethlehem", tempat Anak Manusia menjadi roti hidup, yang sedia dipecah-pecah demi keselamatan dunia.”

Dengan penemuan itu, Mgr Pujasumarta berharap bisa menjadi keselamatan bagi manusia lain atau homo homini salus. “Saya berharap dan berdoa, agar setiap orang bisa berlaku demikian, karena Anak Manusia datang bukan untuk sekelompok tetapi untuk semua orang. Dengan mengutus Putera-Nya itu, Allah telah mengasihi kita, tanpa pandang bulu. Kasih-Nya adalah kasih tanpa syarat. Maka, kita pun juga dipanggil dan diutus untuk berlaku yang sama, mengasih sesama dan dunia tanpa syarat juga.”***


~ Dikutip dari : http://www.facebook.com/penaindonesia/posts/512424192122281 ~

Jumat, 21 Desember 2012

Apakah Kita Siap Untuk Lahir Kembali Bersama Kristus?


Hari Natal semakin dekat. Apakah kita siap untuk ikut lahir kembali bersama Kristus?




Kita yang sudah lama menjalani kehidupan rohani perlu juga untuk lahir menjadi bayi kembali. 

Mungkin kita telah banyak melayani di Gereja, atau di dalam komunitas rohani atau juga dalam even-even rohani. Mungkin kita pernah menjadi ketua komunitas rohani, ketua lingkungan atau ketua wilayah. Kita mungkin telah banyak malang melintang melayani pujian penyembahan ataupun pengajaran. Di atas semuanya itu ada satu yang harus kita pegang: KITA TIDAK MEMPUNYAI JASA SECUIL PUN.

Apakah jasa itu, kita belajar dari yang diajarkan Gereja lewat Katekismus Gereja Katolik:
Terhadap Allah tidak ada jasa dalam arti kata yang sebenarnya dari pihak manusia. Antara Dia dan kita terdapat satu ketidaksamaan yang tidak dapat diukur, karena kita telah menerima segala sesuatu dari Dia, Pencipta kita. (KGK 2007)

Jasa manusia di hadapan Allah dalam kehidupan Kristen hanya muncul dari kenyataan bahwa Allah telah menetapkan secara bebas untuk mengizinkan manusia bekerja sama dengan rahmat-Nya. Titik tolak kerja sama ini adalah selalu tindakan Allah sebagai Bapa yang memberi dorongan supaya manusia dapat bertindak bebas, sehingga jasa-jasa untuk pekerjaan-pekerjaan baik pada tempat pertama harus dialamatkan kepada rahmat Allah dan sesudah itu baru kepada orang beriman. Jasa manusia pada dasamya adalah milik Allah, karena perbuatan-nya yang baik berasal dari rahmat dan bantuan Roh Kudus di dalam Kristus.(KGK 2008)

Apa yang sebelumnya kita pandang sebagai jasa berkat pelayanan rohani kita, sebenarnya malahan adalah hutang kita kepada Allah, karena kita diberi anugerah rahmat dan diperbolehkan menjadi mitra kerja Allah. Semakin kita melayani Allah, maka hutang kita semakin dalam. Namun hutang yang penuh sukacita.

Jadi masa adven ini sangat tepat untuk melupakan semua yang kita anggap sebagai jasa. Kita kembali menjadi seperti bayi yang baru dilahirkan, yang belum sedikit pun berbuat untuk Tuhan dan GerejaNya ataupun sesama. Seorang bayi yang bergantung penuh pada kerahiman Allah.

Beberapa pemahaman santo-santa tentang jasa:
“Sesudah pengasingan di dunia ini, aku berharap bahwa aku akan bergembira di surga karena Engkau; tetapi aku tidak mau mengumpulkan jasa-jasa untuk surga, tetapi hanya bekerja untuk kasihMu….. Pada akhir kehidupan ini, aku akan tampil di hadirat-Mu dengan TANGAN KOSONG ; karena aku tidak mohon kepada-Mu, ya Tuhan, untuk menghitung-hitung perbuatanku. Semua perbuatan kami mengandung noda! Karena itu aku mau mengenakan mahkota belas kasihan-Mu sendiri dan menerima dari kasih-Mu harta abadi ialah Diri-Mu sendiri” (St.Theresia Lisieux)

Sesudah berkeliling berkhotbah, St. Fransiskus Asizi berkata kepada pengikutnya:"Mari kita mulai, karena sampai sekarang kita belum mulai."

salam


~ Dikutip dari : http://www.facebook.com/gerejakatolik?ref=stream ~

Kamis, 20 Desember 2012

Paus Bicara Tentang Iman Maria Dalam Audiensi Umum Terakhir Tahun 2012


Paus Bicara Tentang Iman Maria Dalam Audiensi Umum Terakhir Tahun 2012





Pen@ Indonesia - Ketika Maria menerima Kabar Sukacita, Malaikat Gabriel menyapa Maria dengan kata-kata, “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.” Sapaan itu, adalah ajakan untuk bersukacita dan pemberitahuan tentang akhir dari kesedihan dunia dalam kaitannya dengan batas-batas kehidupan, penderitaan … kegelapan dari yang jahat yang nampaknya mengaburkan cahaya kebaikan ilahi.

“Itulah salam yang menandai awal dari Injil, Kabar Gembira,” kata Paus Benediktus XVI dalam audiensi umum terakhir tahun 2012 dengan “Iman Maria dalam terang Kabar Sukacita” yang dilaksanakan di Aula Paulus VI, Vatikan, tanggal 19 Desember 2012.

Mengapa harus bersukacita? Bagian kedua dari kalimat itu, "Tuhan menyertai engkau," adalah jawabannya, karena dalam diri Maria kedatangan Allah semakin nyata, “Allah yang berdiam dalam dirinya."

Dengan cara luar biasa Maria membuka pintu kepada Pencipta. Maria masuk ke dalam cerita iman dan harapan akan janji-janji Allah. “Seperti Abraham, Maria mempercayakan diri sepenuhnya kepada sabda yang disampaikan oleh utusan Allah, dan menjadi model dan ibu dari semua orang yang percaya,” kata Paus.

Paus Benediktus XVI juga menggarisbawahi keterbukaan diri sepenuhnya dari Maria untuk menerima kehendak ilahi, meskipun itu misterius dan kerap kali tidak sesuai dengan kehendak pribadi kita.

“Iman Maria mengalami kegembiraan Kabar Sukacita, namun juga melewati kegelapan penyaliban Putra Allah, sebelum akhirnya mencapai terang Kebangkitan.” Apa yang dialami Maria, kata Paus, tidak berbeda dengan perjalanan iman kita masing-masing yang menghadapi saat-saat terang dan juga saat-saat di mana Allah tampaknya tidak hadir. “Diam-Nya sangat mencemaskan hati kita dan kehendak-Nya tidak sesuai dengan kehendak kita sendiri,” komentar Bapa Suci.

Namun, semakin kita membuka diri kepada Allah ... seperti Abraham dan seperti Maria, “semakin Dia membuat kita mampu, melalui kehadiran-Nya, untuk menjalani setiap saat dalam kehidupan, dalam kedamaian, dan dalam kepastian kesetiaan-Nya dan kasih-Nya,” kata Paus seraya menambahkan bahwa itu berarti kita harus meninggalkan diri sendiri dan rencana sendiri, sehingga Sabda Allah bisa menjadi cahaya penuntun bagi pikiran dan tindakan kita.

Sebentar lagi kita akan merayakan hikmatnya Kelahiran Tuhan, tegas Paus. Peristiwa itu, hendaknya mengajak kita untuk mengalami kerendahan hati dan ketaatan iman yang sama. Kemuliaan Allah tidaklah terwujud dalam kemenangan atau kekuasaan seorang raja, tidak bersinar dari istana yang megah, sebaliknya menemukan tempat tinggalnya di dalam rahim seorang perawan, dan mengungkapkan dirinya dalam kemiskinan seorang anak.

“Kemahakuasaan Allah, juga di dalam hidup kita, bertindak dengan kekuatan kebenaran dan cinta yang sering diam. Oleh karena itu, iman memberitahukan kepada kita bahwa pada akhirnya kekuatan yang tak berdaya dari Sang Anak menang atas kebisingan kekuasaan-kekuasaan duniawi.”***


~ Dikutip dari : http://www.facebook.com/photo.php?fbid=510537692310931&set=a.127818637249507.15004.118451568186214&type=1 ~

Minggu, 09 Desember 2012

Seputar Adven dan Natal



Seputar Adven dan Natal 


Mengerti apa yang terjadi di seputar Natal

Setiap tahun umat Kristiani merayakan Natal. Bagi umat Katolik, perayaan Natal didahului dengan persiapan masa Natal, yaitu Masa Adven yang merupakan masa persiapan kedatangan Kristus. Bagi banyak orang, Natal dan Adven identik dengan pohon natal, kandang natal, dan hadiah natal. Namun, lebih daripada itu, hal yang terpenting dilakukan adalah persiapan rohani untuk menyambut Kristus. Namun sayangnya, banyak orang kurang mengetahui alasan dan makna di balik semua persiapan rohani yang dilakukan. Artikel ini bertujuan untuk mengupas tradisi di seputar Natal dan persiapan yang dilakukan selama masa Adven, sehingga kita yang merayakan akan semakin menghargai apa yang biasa kita lakukan.
Seputar Natal

1. Kedatangan Yesus menjadi Anno Domini

Secara tidak sadar, sebenarnya dunia mengakui kedatangan Kristus sebagai satu hal yang begitu istimewa, karena perhitungan kalendar internasional menggunakan acuan kedatangan Kristus, yaitu yang dinamakan Anno Domini (AD), artinya tahun Tuhan, untuk menandai tahun-tahun sesudah kelahiran Kristus; dan BC, yaitu singkatan dari Before Christ untuk tahun- tahun sebelum kelahiran Kristus. Dengan demikian, kedatangan Kristus membagi sejarah manusia menjadi dua, dan titik pusatnya adalah Kristus sendiri. Ini adalah kenyataan yang terjadi berabad-abad dan patokan AD dan BC akan terus berlaku sampai akhir zaman.
Namun, kalau kita mengadakan perhitungan, sebenarnya kedatangan Kristus bukanlah permulaan tahun AD, namun sekitar 7BC – 5BC. Dionysius Exiguus (470-544) adalah seorang anggota Scythian monks, yang akhirnya tinggal di Roma sekitar tahun 500. Dionysius adalah orang yang pertama kali memperkenalkan AD (Anno Domini / the year of the Lord) pada waktu dia membuat kalendar Paskah (Easter). Sistem penanggalan ini menggantikan sistem penanggalan Diocletian, karena Dionysius tidak ingin menggunakan perhitungan Diocletian, seorang Kaisar yang menganiaya jemaat Kristen di abad ke-3. Dionysius mengatakan bahwa Anno Domini dimulai 754 tahun dari pondasi Roma (A.U.C) atau tahun 1 AD, yaitu tahun dimana Yesus lahir (dalam perhitungan Dionysius). Namun berdasarkan perhitungan para ahli, terutama berdasarkan bukti sejarah dari Josephus, maka perhitungan ini tidaklah benar.
Kitab Matius mengatakan “Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman raja Herodes, datanglah orang-orang majus dari Timur ke Yerusalem” (Mt 2:1). Josephus, seorang ahli sejarah mengatakan bahwa Raja Herodes meninggal setelah berkuasa selama 34 tahun (de facto) dari meninggalnya Antigonus dan 37 tahun (de jure) sejak Roma mengeluarkan perintah yang menyatakan bahwa dia adalah raja (Josephus,Antiquities, 17,8,1). Antigonus meninggal pada saat Marcus Agrippa dan Lucius Caninius Gallus menjadi konsulat, yaitu pada tahun 37 BC.[1]. Herodes menjadi raja pada saat Caius Domitias Calvinus dan Caius Asinius Pollio menjadi konsulat pada tahun 40 BC. Perhitungannya adalah sebagai berikut: Dihitung dari meninggalnya Antigonus: 37 BC – 34 = 3 BC atau dihitung dari Raja Herodes menjadi raja: 40 BC – 37 = 3 BC.
Oleh karena itu, raja Herodes dipercaya meninggal sekitar 3 BC – 5 BC, atau kemungkinan sekitar 4 BC. Hal ini dikarenakan Josephus mengatakan bahwa pada saat tahun itu juga terjadi gerhana bulan (Josephus, Antiquities, 17,6, 4). Dan gerhana bulan ini terjadi pada tahun 4 BC. Karena Herodes meninggal tahun 4 BC, maka Kristus harus lahir sebelum tahun 4 BC. Dan diperkirakan Yesus lahir beberapa tahun sebelum kematian raja Herodes. Berdasarkan perhitungan tersebut di atas, para ahli percaya bahwa kelahiran Yesus adalah sekitar tahun 7 BC – 6 BC.
2. Mengapa merayakan Natal tanggal 25 Desember

Setiap tahun kita merayakan hari Natal, yaitu Hari Kelahiran Yesus Kristus. Namun mungkin banyak di antara kita yang mempunyai pertanyaan- pertanyaan sehubungan dengan perayaan Natal, setidak-tidaknya seperti tiga buah pertanyaan berikut ini. Pertama, tentang asal-usul perayaan Natal. Kedua, apa perlunya merayakan Natal, mengingat kata Natal tidak disebut dalam Kitab Suci. Ketiga, bolehkah merayakan Natal sebelum tanggal 25 Desember?[2]
Memang ada beberapa teori tentang asal mula hari Natal dan Tahun Baru. MenurutCatholic Encyclopedia, pesta Natal pertama kali disebut dalam “Depositio Martyrum” dalam Roman Chronograph 354 (edisi Valentini-Zucchetti (Vatican City, 1942) 2:17).[3] Dan karena Depositio Martyrum ditulis sekitar tahun 336, maka disimpulkan bahwa perayaan Natal dimulai sekitar pertengahan abad ke-4.
Kita juga tidak tahu secara persis tanggal kelahiran Kristus, namun para ahli memperkirakan sekitar 8-6 BC (Sebelum Masehi). St. Yohanes Krisostomus berargumentasi bahwa Natal memang jatuh pada tanggal 25 Desember, dengan perhitungan kelahiran Yohanes Pembaptis. Karena Zakaria adalah imam agung dan hari silih (Atonement) jatuh pada tanggal 24 September, maka Yohanes Pembaptis lahir tanggal 24 Juni dan Kristus lahir enam bulan setelahnya, yaitu tanggal 25 Desember.[4]
Banyak juga orang yang mempercayai bahwa kelahiran Kristus pada tanggal 25 Desember adalah berdasarkan tanggal winter solstice (25 Desember dalam kalendar Julian). Pada tanggal tersebut matahari mulai kembali ke utara. Dan pada tanggal yang sama kaum kafir /pagan berpesta “Dies Natalis Solis Invicti” (perayaan dewa Matahari). Pada tahun 274, kaisar Aurelian menyatakan bahwa dewa matahari sebagai pelindung kerajaan Roma, yang pestanya dirayakan setiap tanggal 25 Desember.[5] Hal ini juga berlaku untuk tahun baru, yang dikatakan berasal dari kebiasaan suku Babilonia. Semua ini merupakan spekulasi.
Namun, anggaplah bahwa data historis tersebut di atas benar, dan pesta Natal diambil dari kebiasaan kaum kafir, maka pertanyaannya, apakah kita sebagai orang Kristen boleh merayakannya? Jawabannya YA, dengan beberapa alasan:
a. Alasan inkulturasi. Kita tidak harus menghapus semua hal di dalam sejarah atau kebiasaan tertentu di dalam kebudayaan tertentu, sejauh itu tidak bertentangan dengan ajaran dan doktrin Gereja dan juga membantu manusia untuk lebih dapat menerima Kekristenan. Esensi dari perayaan Natal adalah kita ingin memperingati kelahiran Yesus Kristus, yang menunjukkan misteri inkarnasi yaitu Allah menjelma manjadi manusia. Dan karena Yesus adalah Terang Dunia (Lih. Yoh 8:12; Yoh 9:5), maka sangat wajar untuk mengganti penyembahan kepada dewa matahari dengan Allah Putera, yaitu Yesus, Sang Terang Dunia itu. Dan karena Yesus adalah “awal dan akhir” dan datang “untuk membuat semuanya baru” (Why 21:5-6), maka tahun kelahiran Kristus diperhitungkan sebagai tahun pertama atau disebut 1 Masehi. Dengan ini, maka orang-orang yang tadinya merayakan dewa matahari, setelah menjadi Kristen, mereka merayakan Tuhan yang benar, yaitu Yesus Sang Terang Dunia. Dan orang-orang tersebut akan dengan mudah menerima Kekristenan, sedangkan Gereja juga tidak mengorbankan nilai-nilai Kekristenan.
Namun di satu sisi, Gereja tidak pernah berkompromi terhadap hari Tuhan, yang kita peringati setiap hari Minggu. Di sini Gereja mengetahui secara persis, bahwa kematian Tuhan Yesus di kayu salib jatuh pada hari Jumat, dan kebangkitan-Nya adalah hari Minggu. Pada masa Gereja awal, ada sekelompok orang yang memaksakan untuk mengadakan hari Tuhan pada hari Sabat (mulai hari Jumat sore sampai Sabtu malam). Namun beberapa Santo di abad awal mempertahankan bahwa hari Tuhan adalah hari Minggu dengan alasan: 1) Yesus bangkit pada hari Minggu, 2) Yesus memperbaharui hukum dalam Perjanjian Baru dengan hukum yang baru. Dengan dasar inilah Gereja tetap teguh mempertahankan hari Minggu sebagai hari Tuhan. Namun dalam hal perayaan Natal, tidak ada yang tahu secara persis hari kelahiran Tuhan Yesus, sehingga perayaannya ditentukan dengan pertimbangan tertentu, sebagaimana disebutkan di atas, tanpa mengorbankan prinsip ajarannya.
b. Kalau kita amati, manusia dalam relung hatinya mempunyai keinginan untuk menemukan Penciptanya. Penyembahan kepada dewa matahari merupakan perwujudan bahwa menusia mengakui bahwa ada sesuatu yang lebih tinggi daripada dirinya, dan mereka menganggap ‘sesuatu’ itu adalah matahari, yang dipandang dapat memberikan kehidupan bagi mahluk hidup pada waktu itu. Namun sesuai dengan prinsip grace perfects nature atau rahmat menyempurnakan sifat alamiah[6] , maka tidak ada salahnya untuk mengadopsi tanggal yang sama, dengan menyempurnakan konsep yang salah sehingga menjadi benar, dalam hal ini, penyembahan terhadap dewa terang/ matahari dialihkan kepada penyembahan kepada Yesus, Sang Sumber Terang, yang menciptakan matahari dan segala ciptaan lainnya.
c. Adalah baik untuk mempunyai tanggal tertentu (dalam hal ini 25 Desember untuk perayaan Natal), yang setiap tahun diulang tanpa henti sampai pada akhir dunia. Tanggal ini senantiasa akan mengingatkan kita akan kelahiran Yesus Kristus. Kalau kita mengadakan angket di seluruh dunia, dengan pertanyaan “Kita memperingati apakah pada tanggal 25 Desember?”, kita dapat yakin bahwa hampir semua jawaban akan mengatakan “Hari Natal, atau kelahiran Kristus” dan bukan merayakan dewa matahari, ataupun perayaan lainnya.
d. Untuk umat Katolik, melalui masa Adven, Gereja menginginkan agar seluruh umat Katolik mempersiapkan diri menyambut datangnya Sang Raja. Dari sini kita melihat bahwa Gereja Katolik justru mendorong kita semua untuk mengambil bagian dalam persiapan Natal, yaitu dengan pertobatan, agar hati kita siap menyambut kedatangan-Nya yang kita rayakan pada tanggal 25 Desember.
Namun, bukankah Natal tidak pernah disebutkan dalam Kitab Suci? Mengapa kita tetap merayakan Natal? Kita tahu, bahwa tidak semua hal disebutkan di dalam Kitab Suci (lih. Yoh 21:25), termasuk kata Inkarnasi, Trinitas, Natal. Jangan lupa juga bahwa Kitab Suci pun tidak pernah menuliskan larangan untuk merayakan Natal. Satu hal yang pasti adalah kelahiran Yesus disebutkan di dalam Kitab Suci. Merayakan misteri Inkarnasi, merayakan Tuhan datang ke dunia dalam rupa manusia, merayakan bukti cinta kasih Allah kepada manusia adalah esensi dari perayaan Natal. Dengan demikian, perayaan Natal adalah hal yang sangat baik, karena seluruh umat Allah memperingati belas kasih Allah. Kalau memperingati ulang tahun anak kita adalah sesuatu yang baik – karena mengingatkan akan kasih Allah yang memberikan anak di dalam keluarga kita, maka seharusnya memperingati ulang tahun Sang Penyelamat kita adalah hal yang amat sangat baik, bahkan sudah seharusnya dilakukan.
Pertanyaan selanjutnya adalah apakah boleh merayakan Natal sebelum tanggal 25 Desember atau sesudah lewat masa Natal? Sebenarnya, dari pemahaman makna Adven, kita, umat Katolik,  tidak dianjurkan untuk merayakan Natal sebelum hari Natal. Sebab justru karena kita menghargai hari Natal sebagai hari yang sangat istimewa, maka kita perlu mempersiapkan diri untuk menyambutnya. Persiapan ini kita lakukan dengan masa pertobatan selama 4 minggu, yaitu mengosongkan diri kita dari segala dosa yang menghalangi kita menyambut Sang Juru Selamat; agar pada hari kelahiran-Nya, kita dapat mengalami lahir-Nya Kristus secara baru di dalam hati kita. Dengan demikian, kalau kita ingin merayakan Natal bersama keluarga, mari kita rayakan setelah Malam Natal, setelah hari Natal, selama dalam 8 hari (Oktaf Natal). Gereja Katolik memang merayakan Natal sejak Malam Natal sampai hari Epifani (Minggu Pertama setelah Oktaf Natal) dan bahkan gereja-gereja memasang dekorasi Natal sampai perayaan Pembaptisan Yesus oleh Yohanes Pembaptis (hari Minggu setelah tanggal 6 Januari).
3. Mengapa pohon cemara?

Sejarah pohon natal dapat ditelusuri sampai di sekitar abad ke-8, saat St. Bonifasius (675-754), seorang uskup Inggris, menyebarkan iman Katolik di Jerman. Pada saat dia meninggalkan Jerman dan pergi ke Roma sekitar 15 tahun lamanya, jemaat yang dia tinggalkan kembali lagi kepada kebiasaan mereka untuk mempersembahkan kurban berhala di bawah pohon Oak. Namun dengan berani St. Bonifasius menentang hal ini dan kemudian menebang pohon Oak tersebut. Jemaat kemudian bertanya bagaimana caranya mereka dapat merayakan Natal. Maka St. Bonifasius kemudian menunjuk kepada pohon firatau pine, yang melambangkan damai dan kekekalan karena senantiasa hijau sepanjang tahun. Juga karena bentuknya meruncing ke atas, maka itu mengingatkan akan surga. Bentuk pohon yang berupa segitiga dan menjulang ke atas serta hijau sepanjang tahun, inilah mengingatkan kita akan misteri Trinitas, Allah yang kekal untuk selama-lamanya, yang turun ke dunia dalam diri Kristus untuk menyelamatkan manusia.
Maka walaupun memang tradisi pohon cemara tidak diperoleh dari jaman dan tempat asal Yesus, penggunaan pohon cemara tidak bertentangan dengan pengajaran Kitab Suci. Dalam hal ini, yang dipentingkan adalah maknanya: yaitu untuk mengingatkan umat Kristiani agar mengingat misteri kasih Allah Trinitas yang kekal selamanya, yang dinyatakan dengan kelahiran Yesus Sang Putera ke dunia demi menebus dosa manusia.
Tradisi Masa Adven

Begitu pentingnya peristiwa kelahiran Yesus Sang Putera, sehingga Gereja mempersiapkan umatnya untuk memperingatinya; dan masa persiapan ini dikenal dengan masa Adven. Kata “adven” sendiri berasal dari kata “adventus” dari bahasa Latin, yang artinya “kedatangan”. Masa Adven yang kita kenal saat ini sebenarnya telah melalui perkembangan yang cukup panjang. Pada tahun 590, sinode di Macon, Gaul, menetapkan masa pertobatan dan persiapan kedatangan Kristus. Kita juga menemukan bukti dari homili Minggu ke-2 masa Adven dari St. Gregorius Agung (Masa kepausan 590-604). DariGelasian Sacramentary, kita dapat melihat adanya 5 minggu masa Adven, yang kemudian diubah menjadi 4 minggu oleh Paus Gregorius VII (1073-1085). Sampai sekarang, masa Adven ini dimulai dari hari Minggu terdekat dengan tanggal 30 November (hari raya St. Andreas) selama 4 minggu ke depan sampai kepada hari Natal pada tanggal 25 Desember.
Masa Adven ini berkaitan dengan permenungan akan kedatangan Kristus. Kristus memang telah datang ke dunia, Ia akan datang kembali di akhir zaman; namun Ia tidak pernah meninggalkan Gereja-Nya dan selalu hadir di tengah- tengah umat-Nya. Maka dikatakan bahwa peringatan Adven merupakan perayaan akan tiga hal: peringatan akan kedatangan Kristus yang pertama di dunia, kehadiran-Nya di tengah Gereja, dan penantian akan kedatangan-Nya kembali di akhir zaman. Maka kata “Adven” harus dimaknai dengan arti yang penuh, yaitu: dulu, sekarang dan di waktu yang akan datang.
Ini adalah dasar dari pengertian tiga macam kedatangan Kristus yang dipahami Gereja Katolik. Pemahaman ini menjiwai persiapan rohani umat; dan hal ini tercermin dalam perayaan liturgi dalam Gereja Katolik. Sebab di antara kedatangan-Nya yang pertama di Betlehem dan kedatangan-Nya yang kedua di akhir zaman, Kristus tetap datang dan hadir di tengah umat-Nya. Hanya saja, masa Adven menjadi istimewa karena secara khusus Gereja mempersiapkan diri untuk memperingati peristiwa besar penjelmaan Tuhan, menjelang peringatan hari kelahiran-Nya di dunia.
Katekismus Gereja Katolik (KGK, 524) menuliskan:
KGK, 524 Dalam perayaan liturgi Adven, Gereja menghidupkan lagi penantian akan Mesias; dengan demikian umat beriman mengambil bagian dalam persiapan yang lama menjelang kedatangan pertama Penebus dan membaharui di dalamnya kerinduan akan kedatangan-Nya yang kedua (Bdk. Why 22:17.). Dengan merayakan kelahiran dan mati syahid sang perintis, Gereja menyatukan diri dengan kerinduannya: “Ia harus makin besar dan aku harus makin kecil” (Yoh 3:30).
Pada masa Adven, umat Katolik sering melakukan ulah kesalehan yang baik, yang berakar selama berabad-abad. Ulah kesalehan ini bertujuan untuk membantu mempersiapkan umat dalam menyambut kedatangan Sang Mesias.[7] Semua ulah kesalehan ini mengingatkan umat akan Sang Mesias yang sebelumnya telah dinubuatkan melalui perantaraan para nabi dalam Perjanjian Lama. Ulah kesalehan ini juga mengingatkan umat Allah akan Kristus yang lahir dari Perawan Maria dengan begitu banyak kesulitan, yang akhirnya terlahir, namun terlahir di kandang, di tempat yang kurang layak. Mari sekarang kita membahas persiapan rohani yang terkait dengan masa Adven.
1. Persiapan spiritual

Karena masa Adven adalah masa penantian yang harus diisi dengan pertobatan, sehingga kita mempersiapkan diri kita untuk menyambut kedatangan Kristus, maka sudah seharusnya umat Allah mempersiapkan diri secara spiritual. Persiapan yang terbaik adalah dengan lebih sering menerima Sakramen Ekaristi dan juga menerima Sakramen Tobat. Sakramen Ekaristi menyadarkan kita akan kasih Allah yang memberikan Putera-Nya untuk bersatu dengan kita, yang dimulai dengan peristiwa Inkarnasi. Sakramen Tobat menyadarkan kita bahwa kita sebenarnya tidak layak menyambut Kristus karena dosa-dosa kita, namun Kristus datang ke dunia untuk menyelamatkan kita dari belenggu dosa. Masa Adven adalah waktu yang tepat untuk terus bertekun dalam doa-doa pribadi dan membaca Kitab Suci. Sungguh baik kalau kita dapat mengikuti bacaan Kitab Suci mengikuti kalender Gereja, karena bacaan-bacaan telah disusun sedemikian rupa untuk mempersiapkan kita menyambut Sang Mesias.
Dalam masa Adven ini, ada sebagian umat yang juga menjalankan Novena Maria dikandung Tanpa Noda, Novena Natal dan Novena Kanak- kanak Yesus. Karena Gereja memperingati Maria dikandung Tanpa Noda (Immaculate Conception) pada tanggal 9 Desember, maka penghormatan kepada Bunda Maria, yang melahirkan Kristus juga dipandang sebagai devosi yang baik. Jika devosi ini dilaksanakan, maka sebaiknya menonjolkan teks-teks profetis, mulai dari Kej 3:15 dan berakhir pada kabar gembira dari malaikat Gabriel kepada Maria, yang penuh rahmat.[8]
2. Lingkaran Adven

Lingkaran Adven (Adven wreath) adalah satu lingkaran yang biasanya terbuat dari daun-daun segar, dengan empat lilin. Pada awal mulanya, sebelum kekristenan berkembang di Jerman, orang- orang telah menggunakan lingkaran daun, yang atasnya dipasang lilin untuk memberikan pengharapan bahwa musim dingin yang gelap akan lewat. Di abad pertengahan, umat Kristen mengadaptasi kebiasaan ini dan memberikan makna yang baru pada lingkaran daun ini menjadi lingkaran Adven, untuk menantikan kedatangan Mesias, Sang Terang. Dikatakan bahwa penyalaan lilin yang bertambah minggu demi minggu sampai hari Natal merupakan permenungan akan tahapan karya keselamatan Allah sebelum kedatangan Kristus, yang adalah Sang Terang Dunia, yang akan menghapuskan kegelapan. (Ibid, 98))
Di dalam dokumen Direktorium tentang Kesalehan Umat dan Liturgi, tidak disebutkan warna lilin yang digunakan, sehingga umat dapat menggunakan lilin warna putih ataupun ungu. Karena masa Adven juga menjadi masa pertobatan, maka lilin dapat menggunakan warna ungu, yang menjadi simbol pertobatan. Kemudian di Minggu ke-3, atau disebut minggu Gaudete atau minggu sukacita, dipasang lilin berwarna merah muda, yang menyatakan sukacita karena masa penantiaan akan telah berjalan setengah dan akan berakhir. Ada juga kebiasaan, yang meletakkan lilin putih di tengah, yang dinyalakan saat masa Adven selesai, yang menyatakan bahwa Kristus telah datang.
3. Antifon Tujuh ‘O’

Gereja Katolik mengharuskan para imam untuk berdoa liturgi harian (Liturgy of the houratau Brevier). Walaupun doa ini diperuntukkan untuk para imam, namun kaum awam juga dianjurkan untuk mendoakannya. Dengan demikian, alangkah baik, kalau pada tanggal 17-23, juga diadakan ibadah sore bersama-sama di Gereja. Doa ini begitu indah dan dalam, sehingga seseorang dapat berdoa bersama dengan Gereja, doa berdasarkan Sabda Tuhan, dan doa bersama dengan para santa-santo yang dirayakan dalam liturgi Gereja. Dalam masa Adven, tujuh hari sebelum Natal, yaitu tanggal 17-23 Desember, didoakan antifon sebagai berikut: O Sapientia (O Kebijaksanaan), O Adonai (O Tuhan), O Radix Jesse (O Pangkal Isai), O Clavis David (O Kunci Daud), O Oriens (O Bintang Fajar), O Rex Gentium (O Raja Segala Bangsa), O Emmanuel (O Imanuel / O Tuhan beserta kita). Kalau kita mengambil inisial dari doa tersebut mulai dari sebutan yang terakhir, maka akan membentuk kalimat  “ERO CRAS”, yang artinya Besok, Aku akan datang. Jadi, masa penantian dalam masa Adven senantiasa dibarengi dengan pengharapan akan kedatangan Sang Imanuel.
Antifon ini menggambarkan kerinduan akan kedatangan Sang Mesias. Dia yang merupakan Sabda Allah (O, Kebijaksanaan), yang akan mengajarkan manusia jalan Allah dengan cara Sang Sabda yang adalah Allah menjadi manusia (lih. Yoh 1:1). Bagaimana pemenuhan dari janji ini? Hal ini dipenuhi secara bertahap, dengan menggambarkan beberapa karakter. Kalau sebelum-Nya Allah menyatakan hukum-hukumnya dalam dua loh batu, maka nanti Dia akan menyatakannya lewat sebuah Pribadi (O Adonai). Pribadi ini akan datang dari keturunan Daud (O Radix Jesse), yang menggambarkan Inkarnasi, di mana semua raja akan bertekuk lutut. Dia mempunyai kekuasaan tak terbatas, yang digambarkan sebagai kunci Daud (O Clavis David), di mana Dia akan mengangkat manusia dari keterpurukan. Dia akan memberikan terang (O Oriens) kepada bangsa-bangsa. Terang ini menyinari semua orang, baik bangsa Yahudi maupun non-Yahudi, dan Dia akan menjadi raja segala bangsa (O Rex Gentium). Dia akan datang kepada umat manusia dan akan menyertai (O Emmanuel) umat manusia. Itulah harapan dari umat manusia akan kedatangan Sang Penyelamat. Dan dari rangkaian tujuh O Antifon, maka seolah-olah Yesus menjawab kerinduan ini, dengan mengatakan ERO CRAS atau ‘Besok, Aku akan datang’. Mari kita melihat satu persatu dari antifon ini:

17 Desember (O Sapientia)

O Kebijaksanaan, yang mengalir dari Sabda yang Maha Tinggi, menggapai dari ujung ke ujung dengan penuh kuasa, dan dengan gembira memberikan segala sesuatu; datang dan ajarlah kami jalan kebijaksanaan.
“Roh TUHAN akan ada padanya, roh hikmat dan pengertian, roh nasihat dan keperkasaan, roh pengenalan dan takut akan TUHAN; ya, kesenangannya ialah takut akan TUHAN. Ia tidak akan menghakimi dengan sekilas pandang saja atau menjatuhkan keputusan menurut kata orang.” (Yes 11:2-3)
“Dan inipun datangnya dari TUHAN semesta alam; Ia ajaib dalam keputusan dan agung dalam kebijaksanaan.” (Yes 28:29)

18 Desember (O Adonai)

O Tuhan dan Penguasa dari bangsa Israel, yang telah menampakkan diri kepada Musa dari dalam semak terbakar, dan telah memberikan kepadanya hukum di Sinai: datang dan bebaskanlah kami dengan rengkuhan lengan-Mu.
“Tetapi ia akan menghakimi orang-orang lemah dengan keadilan, dan akan menjatuhkan keputusan terhadap orang-orang yang tertindas di negeri dengan kejujuran; ia akan menghajar bumi dengan perkataannya seperti dengan tongkat, dan dengan nafas mulutnya ia akan membunuh orang fasik. Ia tidak akan menyimpang dari kebenaran dan kesetiaan, seperti ikat pinggang tetap terikat pada pinggang.” (Yes 11:4-5)
“Sebab TUHAN ialah Hakim kita, TUHAN ialah yang memberi hukum bagi kita; TUHAN ialah Raja kita, Dia akan menyelamatkan kita.” (Yes 33:22)

19 Desember (O Radix Jesse)

O Pangkal Isai, yang berdiri sebagai tanda bagi orang-orang, yang di hadapan-Nya, seluruh raja tidak dapat membuka mulut mereka; yang kepada-Nya seluruh bangsa harus berdoa: datang dan bebaskanlah kami, janganlah menunda lagi.
“Suatu tunas akan keluar dari tunggul Isai, dan taruk yang akan tumbuh dari pangkalnya akan berbuah.” (Yes 11:1)
“Maka pada waktu itu taruk dari pangkal Isai akan berdiri sebagai panji-panji bagi bangsa-bangsa; dia akan dicari oleh suku-suku bangsa dan tempat kediamannya akan menjadi mulia.” (Yes 11:10)

20 Desember (O Clavis David)

O Kunci Daud, dan tongkat dari bangsa Israel; Yang mana apabila Ia membuka, tidak ada yang dapat menutup; apabila Ia menutup, tidak ada yang dapat membuka: datang dan pimpinlah tawanan dari rumah penjara, dan dia yang duduk dalam kegelapan dan bayang-bayang maut.
“Aku akan menaruh kunci rumah Daud ke atas bahunya: apabila ia membuka, tidak ada yang dapat menutup; apabila ia menutup, tidak ada yang dapat membuka.” (Yes 22:22)
“Besar kekuasaannya, dan damai sejahtera tidak akan berkesudahan di atas takhta Daud dan di dalam kerajaannya, karena ia mendasarkan dan mengokohkannya dengan keadilan dan kebenaran dari sekarang sampai selama-lamanya. Kecemburuan TUHAN semesta alam akan melakukan hal ini.” (Yes 9:7)
“untuk membuka mata yang buta, untuk mengeluarkan orang hukuman dari tempat tahanan dan mengeluarkan orang-orang yang duduk dalam gelap dari rumah penjara.” (Yes 42:7)

21 Desember (O Oriens)

O Fajar Timur, Cahaya kemegahan abadi, dan matahari keadilan: Datang dan terangilah mereka yang duduk dalam kegelapan, dan bayang-bayang maut.
“Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar; mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar.” (Yes 9:1)
“Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan TUHAN terbit atasmu. Sebab sesungguhnya, kegelapan menutupi bumi, dan kekelaman menutupi bangsa-bangsa; tetapi terang TUHAN terbit atasmu, dan kemuliaan-Nya menjadi nyata atasmu.” (Yes 60:1-2)
“Tetapi kamu yang takut akan nama-Ku, bagimu akan terbit surya kebenarandengan kesembuhan pada sayapnya. Kamu akan keluar dan berjingkrak-jingkrak seperti anak lembu lepas kandang.” (Mal 4:2)

22 Desember (O Rex Gentium)

O Raja Segala Bangsa, dan yang dirindukan, Batu penjuru yang membuat bangsa Yahudi dan non-Yahudi menjadi satu: datang dan selamatkanlah manusia, yang telah Engkau ciptakan dari debu tanah.
“Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.” (Yes 9:6)
“Ia akan menjadi hakim antara bangsa-bangsa dan akan menjadi wasit bagi banyak suku bangsa; maka mereka akan menempa pedang-pedangnya menjadi mata bajak dan tombak-tombaknya menjadi pisau pemangkas; bangsa tidak akan lagi mengangkat pedang terhadap bangsa, dan mereka tidak akan lagi belajar perang.” (Yes 2:4)
“sebab itu beginilah firman Tuhan ALLAH: “Sesungguhnya, Aku meletakkan sebagai dasar di Sion sebuah batu, batu yang teruji, sebuah batu penjuru yang mahal, suatu dasar yang teguh: Siapa yang percaya, tidak akan gelisah!” (Yes 28:16)

23 Desember (O Emmanuel)

O Imanuel, Raja dan Pemberi hukum kami, harapan dari semua bangsa dan keselamatan mereka: datang dan selamatkanlah kami, O Tuhan Allah kami.
“Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel.” (Yes 7:14)
Mempersiapkan Natal dengan sungguh dan menangkap arti Natal

Dari pemaparan di atas, maka sesungguhnya menjadi jelas, bahwa masa Adven adalah masa persiapan untuk menyambut kedatangan Kristus, yang harus diisi dengan pertobatan, yaitu membersihkan rumah hati kita, agar Kristus dapat lahir kembali di hati kita. Kalau kita mempersiapkan diri dengan baik, maka kita akan mengalami Kristus yang hadir di dalam hati kita, sehingga kita juga akan mempunyai tujuan yang sama dengan Inkarnasi Kristus, yaitu untuk mengasihi dengan memberikan diri kepada sesama kita. Dengan kata lain, Natal mengingatkan kita untuk dapat berbagi kasih dengan sesama. Mari, pada masa Adven ini, kita mempersiapkan diri kita dengan sebaik-baiknya. Datanglah ya Tuhan, lahirlah secara baru di dalam hatiku…..!

CATATAN KAKI:
  1. Josephus, Antiquities, 14,16, 4
  2. Tiga pertanyaan dan jawaban dari pertanyaan ini dimuat di tabloid Catholic Lifeedisi Desember 2011
  3. New Catholic Encyclopedia, Vol III, The Catholic University of America, (Washington: 1967, reprint 1981), p.656
  4. Ibid. 
  5. Ibid. 
  6. lihat St. Thomas Aquinas, ST, I, q.1, a.8. 
  7. Kongregasi Ibadat dan Tata Tertib Sakramen, Direktorium tentang Kesalehan Umat dan Liturgi, Asas-asas dan pedoman, 97 
  8. Ibid., 102

Mahkota Kemenangan


Mahkota Kemenangan


Pagi itu hatiku tidak tenang. Bayangan seorang gadis remaja yang bertemu denganku di retret Emmaus Journey melintas di pikiranku tiada hentinya. Air matanya berlinang dilanda kekhawatiran akan nasib ayahnya. Ayahnya sudah lama menderita kanker otak. Ayahnya mulai berubah. Ia suka marah kepada Tuhan. Ia tidak mau berdoa lagi karena merasa tidak ada gunanya. Gadis itu sedih bukan karena penyakit ayahnya, tetapi sedih kalau ayahnya meninggal dengan kehilangan iman. "Apakah Romo bisa datang untuk memulihkan iman ayahku?", pintanya penuh dengan harap.

Aku memenuhi harapannya. Aku datang ke rumahnya dengan perasaan tidak karuan. Aku masuk ke kamar ayahnya dengan jantung deg-degan. Aku menopangkan tanganku di atas kepalanya. Air matanya tiba-tiba mengalir dengan derasnya. Tangannya mencengkram lenganku kuat-kuat: "Romo, apakah aku akan mati tanpa arti?". Ayahnya ini ternyata seorang yang dulunya sangat aktif melayani gereja sejak muda. Ia kini merasa hidupnya tidak bermakna karena seharian hanya tergolek di tempat tidurnya.

Aku katakan dengan lembut: "Ketabahanmu justru merupakan kesaksian akan keberadaan Sang Ilahi bagi umat manusia modern yang cepat frustrasi". Ia pelan-pelan melepaskan cengkramannya dan memejamkan matanya. Hatinya tampak lega dan tenang. Aku membacakan ayat Kitab Suci sebelum meninggalkannya: "Jika kami menderita, hal itu menjadi penghiburan dan keselamatan kamu; Jika kami dihibur, maka hal itu adalah untuk penghiburan kamu, sehingga kamu beroleh kekuatan untuk dengan sabar menderita kesengsaraan yang sama seperti yang kami derita juga" (2 Kor 1:6). Ia menjawab dengan suara lirih: "Amin".

Ia memperoleh mahkota kemenangan dalam pergulatan iman yang hebat. Kemenangan yang memberikan penghiburan. Penghiburan yang dapat dirasakan, tetapi tidak dapat ditemukan penyebabnya. Penghiburan ini disebut 'penghiburan tanpa sebab' oleh Santo Ignatius Loyola dalam buku "Latihan Rohani".

Penghiburan itu diperoleh ketika umat Tuhan dapat mengalahkan kecurigaan. Kecurigaan merupakan musuh terbesar bagi ciptaan-Nya. Tuhan sering dipersalahkannya atas segala kegagalan. Tuhan dituduh berpangku tangan terhadap penderitaan akibat kegagalan. Kecurigaan lahir dari keinginannya untuk mengendalikan Tuhan. Tuhan ingin dikuasainya karena merasa diri masih kuat dan gagah. Hanya pengalaman kehampaan dan kekosongan membuat diri rela dikendalikan oleh Tuhan.

Pasrah diri kepada Tuhan memberikan penghiburan. Aku pernah mengalami kegagalan. Kegagalan itu membuatku merasa tidak berarti. Aku menyalahkan sesamaku sebagai manusia tak berhati nurani. Aku menuduh Tuhan yang hanya simpati, tetapi tak ada aksi terhadap jeritan hati. Setelah gagal mencari pembelaan dari pihak sana dan pihak sini, aku bersujud kepada Tuhan dengan hati hancur : "Tuhan, aku datang kepadamu tanpa membawa apa-apa. Aku sudah jatuh dalam kemiskinan total. Tidak ada yang berharga dalam diriku lagi yang dapat aku persembahkan kepadaMu. Jika Engkau membutuhkan diriku ini, aku siap".

Doa "Pasrah Bongkokan" kepada Tuhan membuat aku hidup kembali. Aku mengalami sukacita besar sampai aku tertawa termehek-mehek sendiri. Kalau orang melihatku saat itu, ia akan mengira aku sudah sinting kali.... padahal, aku sedang menikmati penghiburan dari Yang Ilahi. 

Pesannya: "Jangan setir Tuhan, tetapi biarkan Dia mengendalikan hidup ini!" Dengan demikian, sukacita terus memancar karena pengharapan terus menyala: "Semoga Allah, sumber pengharapan, memenuhi kamu dengan segala sukacita dan damai sejahtera dalam iman kamu, supaya oleh kekuatan Roh Kudus kamu berlimpah2 dalam pengharapan" (Roma 15:13).
Sumber : Buku "Cinta Allah Tak Berkesudahan" oleh Romo Felix Supranto SS.CC/PS


~ Dikutip dari : http://www.facebook.com/hidupbaru/posts/10151216986724773 ~

Senin, 03 Desember 2012

Fransiscus Xaverius dan Gereja Indonesia


Franciscus Xaverius dan Gereja Indonesia


Berbicara tentang St. Fransiskus Xaverius tak mungkin terlepas dari sejarah Gereja Indonesia. Misionaris Serikat Jesus ini, memulai karyanya di India; pada tahun 1546, datang ke Indonesia bagian timur, khususnya Maluku. Dalam catatan sejarah, selama berada di Ambon, Fransiskus melakukan banyak pelayanan, terutama membaptis kurang lebih 1000 orang umat.
 Sesudah itu tahun 1549 ia ke Jepang dan seterusnya ke China.

St. Fransiskus Xaverius, digelar kudus oleh Paus Gregorius XV karena teladan hidupnya yang saleh sekaligus menjadi pelindung misi. Dia misionaris kedua terbesar dalam sejarah Gereja sesudah St. Paulus, karena jarak jelajah pewartaan yang dikerjakan oleh Fransiskus, dan banyak sekali mukjizat yang terjadi selama ia berkarya. Di India ia mengajarkan anak2 bagaimana mendoakan orang2 sakit dan banyak orang sakit itu sembuh.

Semangat misioner Fransiskus kemudian menyemangati banyak misionaris lainnya datang ke negeri ini untuk melanjutkan karya evangelisasi dalam pelbagai bidang, ke pelbagai pulau. Karya2 mereka menjadi nyata melalui pertumbuhan dan perkembangan Gereja Katolik di dalam diri jemaat pribumi yang semakin hari semakin bertambah. Kini Gereja Indonesia mempunyai 38 keuskupan tersebar dari Sabang sampai Merauke. Melalui tokoh2nya Gereja Katolik Indonesia memiliki motto: menjadi orang katolik 100% dan menjadi orang Indonesia 100%.
Peran Gereja Katolik bagi negara ini tidak sedikit, baik usaha untuk mencapai kemerdekaan maupun keterlibatan dalam usaha pembangunan untuk menjadi negara yang maju dan lebih baik.

Kita bersyukur atas perkembangan yang luar biasa ini dan senantiasa berharap agar pemerintah kita terus menerus menjaga keutuhan negeri ini melalui dasar PANCASILA dan azas BHINEKA TUNGGAL IKA, sehingga selalu ada kebebasan beragama dan saling menghargai kehadiran pluralitas agama. Jika keadaan ini tetap terjamin, maka Gereja Indonesia akan selalu berkiprah dalam karya evangelisasi international melalui para misionaris yang diutus dari negeri ini.

Dahulu Gereja Katolik Indonesia kebanjiran para misionaris dari luar negeri tetapi kini sebaliknya Gereja Indonesia semakin banyak mengirim misionarisnya ke seluruh dunia. Nama Tuhan harus terus menerus diwartakan ke segenap penjuru dunia agar semakin banyak orang yang percaya, mencintai-Nya dan memuliakan nama-Nya! (RLS)




~ Dikutip dari : http://www.facebook.com/hidupbaru?ref=stream ~

Gugurnya Pahlawan Perempuan Abad-21 Melawan Narkoba

Gugurnya Pahlawan Perempuan Abad-21 
Melawan Narkoba


Dr. Maria Santos Gorrostieta Salazar

Masih ingatkah Anda dengan berita beberapa hari lalu yang memuat tewasnya ratu kecantikan Sinaloa, Maria Susana Flores Gamez (20) dalam baku tembak antara tentara dan geng narkoba? Seperti kita ketahui, Meksiko memang terkenal akan kartel-kartel narkoba yang berbahaya. Namun di balik semua itu, ternyata terdapat sosok-sosok heroik yang dengan gagah berani memerangi geng-geng narkoba tersebut, bahkan ketika nyawa menjadi taruhannya. 

Dr. Maria Santos Gorrostieta Salazar (36) adalah seorang penganut Katolik yang taat dan merupakan mantan walikota perempuan di kota Tiquicheo, sebelah barat Mexico City. Dia dikenal sebagai pahlawan yang berani melawan kartel narkotik dan obat-obatan berbahaya di Meksiko. Ibu dari tiga orang anak ini diculik di pagi hari saat mengantar putrinya ke sekolah dengan mobil Senin (12/11) lalu. Maria dan putrinya keluar rumah pukul 08.30 pagi dan selanjutnya di jalan besar mobilnya dihadang sebuah mobil. Dua lelaki menyuruhnya keluar. Kalimat terakhir yang mungkin tak akan terlupakan adalah “Tolong tinggalkan anak perempuan saya”, sebelum ia dengan sukarela masuk ke mobil para penculiknya. Maria pasti mengkhawatirkan keselamatan putrinya. Mereka pergi membawa Maria, meninggalkan sang putri yang menangis ketakutan sendirian di dalam mobil.

Delapan hari kemudian, dia ditemukan dalam kondisi tak bernyawa di pinggir jalan, di San Juan Tararameo, Cuitzeo Township. Kondisinya amat mengenaskan. Ada bekas pukulan di kepalanya, tikaman di tubuh, tangan dan kakinya terikat. Pinggang dan dadanya tertutup luka bakar. Demikian seperti dilansir Daily Mail, Selasa (27/11/2012).

Gorrostieta lahir pada tahun 1976 dan merupakan lulusan dari jurusan kedokteran sebuah universitas di Morelia, Meksiko. Ia kemudian terpilih menjadi Walikota Tiquicheo, sebuah wilayah pinggiran di Michoacan yang terletak di sebelah barat Mexico City pada tahun 2008 - 2011 (Michoacan adalah basis beberapa organisasi pengedar narkoba yang mengerikan, seperti : La Familia Michoacana, the Knights Templar Cartel dan the Sinaloa Cartel). Ia dijuluki “Pahlawan Heroin Abad ke-21” dan berdiri berhadap-hadapan dengan kartel narkoba yang telah mengubah sebagian besar wilayah Mexico ke zona perang. Tentu saja, langkah beraninya ini beresiko. Selama menjabat, Gorrostieta mendapat banyak ancaman dari pihak-pihak tak dikenal. Bahkan beberapa percobaan pembunuhan menimpanya.

Percobaan pembunuhan pertama menimpa Gorrostieta pada Oktober 2009. Saat itu ia yang sedang mengendarai mobil bersama suami pertamanya Jose Sanchez Chavez yang juga mantan walikota, dihujani tembakan sekelompok pria bersenjata di kawasan El Limone. Suaminya tewas dalam serangan itu, tetapi Gorrostieta berhasil bertahan hidup meskipun luka parah.

Kabarnya ada dua percobaan pembunuhan lagi yang tak masuk pemberitaan. Yang tercatat adalah peristiwa selang tiga bulan kemudian, tanggal 23 Januari 2010, sekelompok pria bertopeng yang membawa senapan mesin memberondong mobil van yang ditumpanginya di jalanan dekat perbatasan Michoacan dan Guerreo. Van yang ditumpanginya tembus oleh 30 peluru, 3 diantaranya mengenai Gorrostieta. Cedera yang diderita Gorrostieta kali ini tergolong sangat parah, apalagi mobil yang dikendarainya juga menabrak. Namun ia masih bertahan hidup dengan sejumlah bekas luka yang tidak dapat hilang di tubuhnya. Selain itu, dia juga harus menggunakan colostomy bag yang disambung dengan usus besarnya untuk menampung ampas pencernaannya. Maria menderita, namun pantang menyerah. Maria bersumpah tak akan menyerah melawan narkoba.

Menurut laporan BBC, Maria menunjukkan luka-luka yang dialaminya lewat sebuah koran lokal. Dalam kesempatan itu ia menetapkan tekadnya untuk “terus berjuang, tetap setia kepada cita-cita dan keyakinan saya, dan yakin bahwa kebenaran akan membebaskan kita.”

“Saya ingin menunjukkan kepada mereka (para penyerangnya) tubuh saya yang terluka, termutilasi dan tak sempurna. Karena saya tidak malu dengan tubuh saya. Inilah produk hal-hal buruk yang membuat saya ngeri, yang telah menimpa hidup saya, anak-anak dan keluarga saya.” Ungkapnya dalam sebuah wawancara dengan El Universal setelah percobaan pembunuhan kedua.

 “Saya harus menanggung kerugian yang saya tidak inginkan terjadi pada siapa pun dan saya harus menerima semua itu dengan pengunduran diri dan dengan kesadaran bahwa itu adalah kehendak Tuhan dan terus maju, sekalipun dengan jiwa yang terluka,” turut dikutip The Christian Post.

“Meskipun demikian, lepas dari keselamatan saya sendiri dan keluarga saya, apa yang menjadi pikiran saya adalah tanggung jawab saya terhadap masyarakat saya : anak-anak, perempuan, orang tua dan para lelaki yang setiap hari bertaruh nyawa demi sepotong roti untuk anak-anak mereka,” lanjutnya.

“Kebebasan membawa konsekuensi. Saya tidak berani duduk diam. Jalan saya masih panjang. Jejak yang akan kita tinggalkan di negeri ini, tergantung dari peperangan yang kita lakukan sekarang. Dan juga kesetiaan kita untuk berperang (melawan narkoba).”

“Saya akan tetap berdiri selama Tuhan mengijinkan saya, untuk terus mencari, menggali, menegosiasikan rencana, proyek dan tindakan untuk kepentingan semua masyarakat, tetapi khususnya, bagi mereka yang rentan. Inilah diri saya.”

“... tubuh saya yang termutilasi berbicara dengan sendirinya, [itu] bukti betapa rentannya kita akan hidup kita yang rapuh, dan akan kehendak Allah yang selalu ada di tengah kenestapaan kita sehari-hari,” ungkap Maria menghadapi tantangan hidupnya. Ia telah memilh yang terbaik.

Ungkapan hati Maria yang baru pulih itu menyentuh demikian banyak orang. Ia meneruskan pekerjaannya dan berjuang mendapatkan kursi di konggres, sayang usahanya tidak berhasil. Dia kemudian menikah kembali menjauh dari publik dan menjalani hidupnya sebagai ibu rumah tangga. Tetapi rupanya keberaniannya tetap mengundang para geng narkoba untuk memburunya. Setelah masa tugasnya berakhir (November 2011), ia tidak lagi didampingi tim pengamanan dan hal ini membuat ia menjadi calon korban yang mudah ditembus.

Meksiko selama ini memang tak aman dari geng-geng pengedar narkoba. Apalagi sejak Presiden Felipe Calderon meluncurkan aturan tentang obat tahun 2006. Lebih dari 50 ribu orang terbunuh dalam perang antara kartel-kartel narkoba dan kekuatan tentara. Sekitar dua lusin walikota juga dibunuh.

Para kartel narkoba itu menguasai jalanan dan membuat rakyat ketakutan. Masalah semakin besar karena beberapa negara bagian di AS tampaknya akan melegalkan marijuana. Antara Januari hingga September tahun lalu di Meksiko, 12.903 orang tewas karena kejahatan yang berhubungan dengan narkoba. Peredaran narkoba dari Meksiko menuju AS diperkirakan senilai Rp 125 triliun hingga Rp 472 billiun. Sekitar 90 persen kokain yang digunakan di AS berasal dari Meksiko.

~ Dikutip dari berbagai sumber ~