Pages

Adorasi Sakramen Maha Kudus

“Dari semua devosi, penyembahan kepada Yesus dalam Sakramen Maha Kudus adalah devosi yang terbesar setelah sakramen- sakramen, dan sesuatu yang paling berkenan kepada Allah dan yang paling berguna bagi kita.”~St. Alfonsus Liguori~

Bunda Maria sebagai Bunda semua umat beriman.

Hubungan orang Katolik dengan Maria.

Devosi Kerahiman Ilahi

Yesus, Engkaulah Andalanku!

Bunda Maria, Bunda Sakramen Mahakudus

Sekolah Maria "Wanita Ekaristi"

Hidup yang Diubahkan Kristus Melalui Ekaristi

Yesus mengubah kita dari dalam.

Minggu, 31 Maret 2013

Homili Paus Fransiskus Dalam Misa Malam Paskah 30 Maret 2013

Homili Paus Fransiskus Dalam Misa Malam Paskah 30 Maret 2013



Berikut ini adalah terjemahan dari Homili Paus Fransiskus dalam Misa Vigili Paskah (Malam Paskah) yang diadakan pada Sabtu, 30 Maret 2013 di Basilika Santo Petrus. Inilah Misa Malam Paskah pertama dalam pontifikasinya.

******

Saudara dan saudari yang terkasih,


Dalam Injil pada malam bercahaya Vigili Paskahkita pertama-tama menjumpai para perempuan yang sampai kubur Yesus dengan rempah-rempah untuk mengurapi tubuh-Nya (bdk. Luk 24:1-3). Mereka berangkat untuk menunjukkan tindakan belas kasihtindakan umum kasih sayang dan cinta untuk orang terkasih yang meninggalsebagaimana yang kita lakukanMereka telah mengikuti Yesusmereka telah mendengarkan sabda-Nyamereka telah merasa dimengerti oleh Dia dalam martabat mereka dan mereka telah menemani-Nya hingga akhirhingga Kalvari dan hingga saat ketika Dia diturunkan dari salibKita bisa membayangkan perasaan mereka saat mereka membuat jalan mereka ke makamkesedihandukacita tertentu karena Yesus telah meninggalkan merekaIa telah matihidup-Nya sudah berakhirHidup sekarang akan berjalan seperti sebelumnyaNamun para perempuan  tersebut terus merasakan kasihkasih bagi Yesus yang kini membawa mereka ke kubur-NyaTapi pada titik inisesuatu yang sama sekali baru dan tak terduga terjadisesuatu yang membingungkan hati mereka dan rencana merekasesuatu yang akan membingungkan seluruh hidup merekamereka melihat batu terguling dari hadapan kuburmereka mendekat dan mereka tidak menemukan mayat Tuhan . Ini merupakan sebuah peristiwa yang membuat mereka bingungragu-ragupenuh pertanyaan"Apa yang terjadi?", "Apa arti dari semua ini?" (bdk. Luk 24:4). Bukankah hal yang sama juga terjadi pada kita ketika sesuatu yang sama sekali baru terjadi dalam kehidupan kita sehari-hariKita berhenti sebentarkita tidak mengertikita tidak tahu apa yang harus dilakukanKebaruan sering membuat kita takuttermasuk kebaruan yang Allah bawa bagi kitakebaruan yang Tuhan minta dari kitaKita seperti para Rasul dalam Injilsering kita akan lebih memilih untuk mempertahankan keamanan kita sendiriberdiri di depan makamberpikir tentang seseorang yang telah meninggalseseorang yang akhirnya hidup hanya sebagai kenanganseperti para tokoh besar sejarah masa laluKita takut akan kejutan Allah; kita takut akan kejutan AllahIa selalu mengejutkan kita!

Saudara dan saudari terkasih, marilah kita tidak tertutup terhadap kebaruan yang Allah ingin bawa ke dalam hidup kitaApakah kita sering jemuputus asa dan sedihApakah kita merasa terbebani oleh dosa-dosa kitaApakah kita berpikir bahwa kita tidak akan mampu mengatasiJanganlah kita menutup hati kitamarilah kita tidak kehilangan kepercayaan dirimarilah kita tidak pernah menyerahtidak ada satupun keadaan yang Allah tidak bisa ubah, tidak ada satu pun dosa yang Itidak bisa ampuni sekiranya kita membuka diri kepada-Nya.

 Tetapi mari kita kembali kepada Injilkepada para perempuandan mengambil satu langkah majuMereka menemukan kubur kosongtubuh Yesus tidak ada di sanasesuatu yang baru telah terjaditetapi semua ini masih tidak memberitahu mereka apa pun: hal itu menimbulkan pertanyaanhal itu membuat mereka bingungtanpa menawarkan jawabanDan tiba-tiba ada dua orang berpakaian berkilau-kilauan yang mengatakan"Mengapa kamu mencari Dia yang hidup, di antara orang mati? Ia tidak ada di sini, Ia telah bangkit (Luk 24:5-6). Betapa suatu tindakan sederhanayang dilakukan pasti karena cinta - pergi ke kubur - kini telah berubah menjadi sebuah peristiwaperistiwa yang benar-benar mengubah hidupTidak sesuatu pun yang tetap seperti sebelumnya, tidak hanya dalam kehidupan para perempuan tersebuttetapi juga dalam kehidupan kita sendiri dan dalam sejarah umat manusiaYesus tidak matiIa telah bangkitIa hidupIa tidak hanya kembali kepada kehidupan, melainkan Ia adalah kehidupan itu sendirikarena Iadalah Putra AllahAllah yang hidup (bdk. Bil 14:21-28Ul 5:26; Yos 3:10)Yesus bukan lagi milik masa lalunamun hidup di masa sekarang dan diproyeksikan ke masa depanIadalah "kekinian" Allah yang kekalIni adalah bagaimana kebaruan Allah tampak bagi para perempuanpara murid dan kita semuasebagai kemenangan atas dosakejahatan dan kematianatas segala sesuatu yang menghancurkan kehidupan dan membuatnya tampak kurang manusiawiDan ini adalah pesan yang dimaksudkan bagi saya dan bagi Andasaudara terkasihsaudari terkasihSeberapa sering Sang Kasih harus memberitahu kitaMengapa engkau mencari Sang Kehidupan di antara orang matiMasalah dan kekhawatiran sehari-hari kita dapat membungkus kita dalam diri kita sendiridalam kesedihan dan kegetiran ... dan itulah tempat kematian beradaItu bukan tempat untuk mencari Dia yang hidup!

Biarkan Yesus yang bangkit memasuki kehidupan Andasambutlah Dia sebagai sahabatdengan kepercayaanIa adalah kehidupanJika sampai sekarang Anda telah membuat-Nya di kejauhanmelangkahlah majuDia akan menerima Anda dengan tangan terbukaJika Anda telah acuh tak acuhambillah resikoAnda tidak akan kecewaJika mengikutiNya tampaknya sulitjangan takutpercayalah kepada-Nyayakinlah bahwa Dia dekat dengan AndaDia bersama Anda dan Dia akan memberi Anda kedamaian yang sedang Anda cari dan kekuatan untuk hidup sebagaimana Ia menghendaki Anda lakukan.

Ada satu unsur kecil terakhir yang saya ingin tekankan dalam Injil Malam PaskahPara perempuan menjumpai kebaruan AllahYesus telah bangkitIa hidupTetapi berhadapan dengan kubur kosong dan dua orang berpakaian berkilau-kilauanreaksi pertama mereka adalah suatu ketakutan"mereka sangat ketakutan dan menundukkan kepala, Santo Lukas menceritakan kepada kita - mereka bahkan tidak memiliki keberanian untuk melihatTetapi ketika mereka mendengar warta Kebangkitanmereka menerimanya dalam imanDan dua orang berpakaian berkilau-kilau memberitahu mereka sesuatu yang sangat penting"Ingatlah apa yang dikatakan-Nya kepada kamu, ketika Ia masih di Galilea.... Maka teringatlah mereka akan perkataan Yesus itu” (Luk 24:6,8). Mereka diminta untuk mengingat perjumpaan mereka dengan Yesusuntuk mengingat sabda-Nyatindakan-Nyahidup-Nya; dan justru ingatan kasih akan pengalaman mereka dengan Sang Guru ini yang memampukan para perempuan untuk menguasai rasa takut mereka dan membawa warta Kebangkitan kepada para Rasul dan semua yang lain (Luk 24:9). Mengingat apa yang telah Allah lakukan dan terus lakukan bagi sayabagi kitamengingat jalan yang telah kita jelajahi; hal ini adalah apakah membuka hati kita bagi harapan untuk masa depanSemoga kita belajar untuk mengingat segala sesuatu yang telah Allah lakukan dalam hidup kita.

Pada malam bercahaya inimari kita memohon perantaraan Bunda Mariayang menyimpan segala peristiwa dalam hatinya (bdk. Luk 2:19,51dan memohon Tuhan untuk memberi kita bagian dalam Kebangkitan-NyaSemoga Ia membuka kita kepada kebaruan yang mengubahSemoga Ia menjadikan kita laki-laki dan perempuan yang mampu mengingat semua yang telah Ia lakukan dalam kehidupan kita sendiri dan dalam sejarah dunia kitaSemoga Ia membantu kita untuk merasakan kehadiran-Nya sebagai Satu-satunya yang hidup dan berkarya ditengah-tengah kitaDan semoga Ia mengajarkan kita setiap hari untuk tidak melihat di antara orang mati demi Satu-satunya yang HidupAmin.

Jumat, 29 Maret 2013

Kekerasan Bukian Solusi Menyelesaikan Masalah, Kata Mgr Pujasumarta

Kekerasan Bukian Solusi Menyelesaikan Masalah, Kata Mgr Pujasumarta

Dalam ruang publik yang tuna adab karena kekerasan, tidak dibenarkan kita, yang adalah anak-anak kebangkitan, melakukan kekerasan untuk melawan kekerasan. Kekerasan bukan solusi menyelesaikan masalah.

Pernyataan itu ditulis oleh Uskup Agung Semarang Mgr Johannes Pujasumarta dalam Siaran Pers Renungan Paska 2013 berjudul “Mengapa kekerasan tak kunjung henti?” yang disebarkan oleh Ketua Komisi HAK Keuskupan Agung Semarang (KAS) Pastor Aloys Budi Purnomo Pr, tanggal 27 Maret 2013.

Mgr Pujasumarta menggambarkan bahwa ancaman kekerasan dan tindak kekerasan sebagai cara menyelesaikan masalah tidak hanya terjadi zaman dulu, ketika Yesus yang tidak bersalah, dijatuhi hukuman mati disalib. “Pada zaman kita peristiwa-peristiwa kekerasan begitu mudah terjadi, dan menjadi berita dukacita yang sampai kepada kita setiap hari melalui berbagai media komunikasi.”

Tak terhitung peristiwa kekerasan dalam keluarga, yang tidak diberitakan melalui media publik. Sri Sultan Hamengku Buwono X prihatin atas peristiwa kekerasan di Lembaga Pemasyarakatan, Cebongan, Sleman, Yogyakarta, yang terjadi tanggal 23 Maret 2013, dengan mengatakan, "Saya prihatin mendengar penyerangan lapas. Tapi juga mengapa kekerasan selalu muncul di Daerah Istimewa Yogyakarta?"

Kekerasan tidak hanya di DIY, tetapi di mana-mana. “Saya juga sangat prihatin mendengar berita tentang kekerasan yang dialami oleh jemaat-jemaat Kristiani karena kekerasan dijadikan ancaman dan dilakukan untuk menangani masalah-masalah pembangunan tempat-tempat ibadat dan sekolah-sekolah yang diselenggarakan oleh jemaat-jemaat Kristiani tersebut,” kata Mgr Pujasumarta.

Dalam siaran pers, Mgr Pujasumarta yang juga anggota Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama mengungkapkan data bahwa “Dua bulan terakhir selama tahun 2013 telah tercatat 15 kasus, melanjutkan kasus-kasus tahun 2012 yang berjumlah 75. Kasus-kasus itu merupakan bagian dari total tempat-tempat ibadat yang diganggu atau dirusak, sejak rezim Soekarno sampai rezim Susilo Bambang Yudhoyono, sebanyak 1.250 buah.”

Namun yang lebih memprihatinkan, lanjut Mgr Pujasumarta, pelaku kekerasan itu adalah warga masyarakat sendiri, yang bahkan didukung oleh pihak-pihak tertentu yang seharusnya menjamin keamanan di negeri ini. “Sikap intoleran yang disertai perilaku kekerasan yang dibiarkan itu telah mengantar kita pada situasi kacau balau, khaotic, karena premanisme. Kita telah berada dalam arus spiral kekerasan yang akan membuahkan kematian.”

Pada peristiwa Yesus, jelas uskup agung itu, arus spiral kekerasan dipersonifikasi dalam diri-Nya yang mati karena menjadi korban kekerasan, yang dilakukan oleh penguasa agama yang bersekongkol dengan penguasa politik waktu itu. “Oleh-Nya tuduhan-tuduhan palsu dijawab dengan diam, karena dialog tidak bisa dilakukan kalau ada kekerasan!”

Menurut Mgr Pujasumarta, ketika kekerasan tidak tahan mendengarkan suara kebenaran dalam diam itu, kekerasan akan berbuah kematian, kematian kebenaran, yang seakan-akan membuat lega para pelaku kekerasan. “Ya lega untuk sementara! Karena kebenaran adalah kebenaran.”

Pada peristiwa kematian Yesus, lanjut Mgr Pujasumarta, kebenaran sejati yang berasal dari Allah diakui oleh kepala pasukan yang menyaksikan peristiwa kematian Yesus disalib. “Oleh Lukas dituturkan bahwa kematian Yesus menjadi kesempatan bagi kepala pasukan itu untuk memuliakan Allah, katanya: ‘Sungguh orang ini adalah orang benar!’ (Luk. 23:47)”

Melihat kenyataan itu, Mgr Pujasumarta menegaskan bahwa “Orang benar tetap hidup meskipun dibunuh.” Melalui kematian-Nya, Yesus memiliki kehidupan baru karena dia dilantik menjadi Tuhan dan Kristus, karena Allah telah membangkitkan-Nya dari orang mati.

Paska Kristus, kata Mgr Pujasumarta. mengamanatkan kita mengubah hati yang keras membatu menjadi hati yang manusiawi, yang mampu mendengarkan suara kebenaran, dan bahkan memperjuangkan kebenaran dengan semangat martyria. “Semoga daya kebangkitan Tuhan menjadi kekuatan bagi kita mengubah budaya kekerasan menjadi budaya kelembutan yang berdasar pada kebenaran, keadilan dan kasih.”***


~ Dikutip dari : http://www.facebook.com/photo.php?fbid=560146560683377&set=a.127818637249507.15004.118451568186214&type=1 ~

Homili Paus Fransiskus Dalam Misa Krisma : Kamis, 28 Maret 2013

Homili Paus Fransiskus Dalam Misa Krisma : Kamis, 28 Maret 2013


Pada hari Kamis pagi, 28 Maret 2013, Paus Fransiskus memimpin Misa Krisma di Basilika Santo Petrus. Misa Krisma tersebut dihadiri oleh lebih dari 2000 kardinal, uskup agung, uskup, dan imam; dan juga dihadiri lebih dari 10000 umat.
Berikut adalah terjemahan Homili Paus Fransiskus dalam Misa Krisma tersebut.

*****

Saudara dan saudari terkasih, pagi ini saya memiliki sukacita merayakan Misa Krisma pertama saya sebagai Uskup Roma. Saya menyambut Anda semua dengan kasih sayang, terutama Anda, para imam terkasih, yang, seperti saya sendiri, hari ini mengingat kembali hari pentahbisan Anda.

Bacaan Misa kita berbicara tentang Allah "yang mengurapi orang-orang":

Hamba yang menderita dari Yesaya, Raja Daud dan Yesus Tuhan kita. Ketiganya memiliki kesamaan: pengurapan yang mereka terima dimaksudkan pada gilirannya untuk mengurapi umat beriman Allah, yang para hambanya adalah mereka; mereka diurapi untuk kaum miskin, untuk para tahanan, untuk kaum tertindas ... Sebuah gambaran indah "menjadi untuk" orang lain dapat ditemukan dalam Mazmur:

"Seperti minyak yang baik di atas kepala meleleh ke janggut, yang meleleh ke janggut Harun dan ke leher jubahnya” (Mzm 133:2).

Gambaran penyebaran minyak, mengalir turun dari janggut Harun ke atas kerah jubahnya yang kudus, adalah gambaran pengurapan imamat yang, melalui Kristus, Yang Diurapi, mencapai ujung bumi, diwakili oleh jubah tersebut.

Jubah suci Imam Besar kaya dalam lambang. Salah satu lambang tersebut yakni nama-nama anak-anak Israel yang terukir pada permata krisopras yang dipasang pada tutup bahu baju efod, nenek moyang kasula masa kini kita:

> enam pada permata sebelah kanan tutup bahu dan

>enam pada permata sebelah kiri tutup bahu (bdk Kel 28:6-14).
---

Nama-nama dari dua belas suku Israel juga terukir pada tutup dada (bdk. Kel 28:21). Ini berarti bahwa imam merayakan dengan membawa di bahunya umat yang dipercayakan pada asuhannya dan menyandang nama-nama mereka yang tertulis dalam hatinya.

Ketika kita memakai kasula bersahaja kita, kasula itu mungkin saja membuat kita merasa, di atas bahu kita dan dalam hati kita, beban dan wajah umat beriman kita, para kudus dan martir kita yang banyak di antaranya ada di zaman ini.

Dari keindahan semua hal liturgis ini, yang tidak begitu banyak tentang hal menawan dan pakaian halus dibandingkan tentang kemuliaan Allah kita yang berkilau dalam umat-Nya, yang hidup dan diperkuat, kita beralih pada suatu pertimbangan kegiatan, tindakan.

Minyak berharga yang mengurapi kepala Harun tidak lebih dari sekedar memberi aroma kepada umatnya; minyak itu meluap turun ke "tepi". Tuhan akan mengatakan hal ini dengan jelas: pengurapan-Nya dimaksudkan untuk kaum miskin, para tahanan dan orang-orang sakit, bagi mereka yang sedang berduka dan sendirian. Minyak urapan tidak dimaksudkan hanya untuk membuat kita harum, apalagi untuk disimpan dalam toples, karena kemudian akan menjadi tengik ... dan hati getir.
---

Seorang imam yang baik dapat dikenali dari cara umatnya diurapi. Ini merupakan pengujian yang jelas. Ketika umat kita diurapi dengan minyak sukacita, yang mudah dilihat: misalnya, ketika mereka meninggalkan Misa tampak seakan-akan mereka telah mendengar kabar baik.

Umat kita hendak mendengarkan Injil diwartakan dengan "pengurapan", mereka menyukainya ketika Injil yang kita wartakan menyentuh kehidupan sehari-hari mereka, ketika Injil tersebut mengucur seperti minyak Harun ke tepi kenyataan, ketika Injil membawa cahaya bagi saat-saat kegelapan yang bukan main hebatnya , ke "pinggiran" di mana umat beriman paling terkena serangan mereka yang ingin meruntuhkan iman mereka.

Umat berterima kasih kepada kita karena mereka merasa bahwa kita telah mendoakan kenyataan kehidupan sehari-hari mereka, masalah mereka, sukacita mereka, kesulitan mereka dan harapan mereka.

Dan ketika mereka merasa bahwa keharuman Yang Terurapi, Kristus, telah datang kepada mereka melalui kita, mereka merasa terdorong untuk mempercayakan kepada kita segala sesuatu yang mereka ingin bawa ke hadapan Tuhan:

"Berdoalah bagiku, Bapa, karena aku mempunyai masalah ini",

"Berkatilah aku", "Berdoalah untukku"- kata-kata ini adalah tanda bahwa urapan telah mengalir turun ke tepi jubah, sehingga urapan itu telah berubah menjadi doa.

Doa-doa umat Allah. Ketika kita memiliki hubungan ini dengan Allah dan dengan umat-Nya, dan kasih karunia melalui kita, maka kita adalah para imam, perantara antara Allah dan manusia. Apa yang saya ingin tekankan adalah bahwa kita perlu terus-menerus untuk membangkitkan kasih karunia Allah dan melihat dalam setiap permohonan, bahkan permohonan mereka yang tidakmenyenangkan dan kadang-kadang murni lahiriah atau benar-benar dangkal - meski hanya tampak demikian - kehendak umat kita untuk diurapi dengan minyak wangi, karena mereka tahu bahwa kita memilikinya.

Melihat dan merasakan, bahkan ketika Tuhan merasakan penderitaan penuh harapan dari perempuan yang menderita pendarahan ketika ia menjamah jumbai jubah-Nya. Pada saat itu, Yesus, yang dikelilingi oleh orang banyak di segala penjuru, menjelmakan seluruh keindahan Harun yang mengenakan pakaian imamat, dengan minyak yang mengucur di atas jubahnya. Ini adalah keindahan tersembunyi, sesuatu yang bersinar hanya bagi mereka yang memiliki mata penuh iman dari perempuan yang bermasalah dengan pendarahan.

Tapi bahkan para murid – para imam masa depan - melihat atau memahami: di "pinggiran yang terjumpai", mereka hanya melihat apa yang ada di permukaan: orang banyak mendesak-desak Yesus dari segala penjuru (bdk. Luk 8:42). Tuhan, di sisi lain, merasakan kuasa pengurapan ilahi yang mengucur ke tepi jubah-Nya.

Kita harus "pergi keluar", kemudian, dalam rangka untuk mengalami sendiri pengurapan kita, kuasa dan kemanjurannya yang bersifat menebus: ke "pinggiran" di mana ada penderitaan, pertumpahan darah, kebutaan yang merindukan penglihatan, dan para tahanan dalam perbudakan kepada banyak soko guru kejahatan. Hal ini bukan dalam pencarian jiwa atau mawas diri terus menerus sehingga kita mengalami Tuhan: rangkaian pelajaran pertolongan diri dapat berguna dalam kehidupan, tapi hidup dengan pergi dari satu rangkaian pelajaran ke rangkaian pelajaran yang lain saja, dari satu metode ke metode lain, membawa kita untuk menjadi kaum Pelagian dan meminimalkan kuasa kasih karunia, yang menjadi hidup dan tumbuh subur ke taraf sehingga kita, dalam iman, pergi keluar dan memberikan diri kita sendiri dan Injil kepada orang lain, memberikan sedikit urapan apapun yang kita miliki kepada mereka yang tidak memiliki apapun, tidak punya sama sekali.

Seorang imam yang jarang pergi keluar dari dirinya sendiri, yang sedikit mengurapi - saya tidak akan mengatakan "tidak sama sekali" karena, terima kasih Tuhan, umat kita mengambil minyak kita dari kita bagaimanapun juga - kehilangan akan yang terbaik dari umat kita, akan apa yang dapat membangkitkan kedalaman hati imamatnya. Mereka yang tidak pergi keluar dari diri mereka sendiri, bukannya perantara, berangsur-angsur menjadi penengah, pengelola.

Kita mengetahui perbedaan tersebut: penengah, pengelola, "telah menerima upahnya", dan karena ia tidak menaruh hidupnya sendiri dan hatinya sendiri pada jalur, ia tidak pernah mendengar sebuah ucapan terima kasih yang hangat, yang sepenuh hati. Inilah alasan yang tepat mengapa beberapa imam bertumbuh tidak memuaskan, menjadi imam yang sedih, putus asa dan menjadi dalam arti tertentu pengumpul barang antik atau kesenangan baru - bukannya menjadi gembala yang hidup dengan "bau domba", gembala di tengah-tengah kawanan mereka, penjala manusia.

Sungguh benar, apa yang disebut krisis jati diri imamat mengancam kita semua dan menambah krisis budaya yang lebih luas, tetapi jika kita bisa menahan serangannya yang gencar, kita akan mampu berlayar keluar dalam nama Tuhan dan menebarkan jala kita. Ini bukanlah hal buruk sehingga kenyatan itu sendiri memaksa kita untuk "berlayar keluar ke tempat dalam", di mana betapa kita oleh kasih karunia jelas terlihat sebagai rahmat sejati, keluar memasuki kedalaman dunia masa kini, di mana satu-satunya hal yang diperhitungkan adalah "pengurapan "- bukan jabatan - dan jaring yang melimpah dengan ikan adalah mereka yang dimasukkan hanya dalam nama Yang Terutama yang di dalam Dia kita telah menaruh kepercayaan kita: Yesus sendiri.

Umat awam yang terkasih, mendekatlah kepada para imam Anda dengan kasih sayang dan dengan doa-doa Anda, sehingga mereka selalu memungkinkan menjadi para gembala yang berkenan bagi hati Allah.

Para imam yang terkasih, semoga Allah Bapa memperbaharui dalam diri kita Roh kekudusan yang dengan-Nya kita telah diurapi. Semoga Ia memperbaharui Roh-Nya di dalam hati kita, sehingga pengurapan ini dapat menyebar kepada semua orang, bahkan bagi mereka yang berada di "pinggiran" di mana umat beriman kita paling menantikannya dan paling menghargainya.

Semoga umat kita merasakan bahwa kita adalah murid-murid Tuhan; semoga mereka merasakan bahwa nama mereka ditulis di atas jubah imamat kita dan bahwa kita tidak mencari jati diri lain, dan semoga mereka menerima melalui kata-kata dan perbuatan kita minyak sukacita yang dibawa Yesus, Yang Terurapi, kepada kita ketika Ia datang. Amen.
---

"In Domino."--"Dalam Tuhan."

[+In Cruce Salus, Pada Salib Ada Keselamatan. Thomas A Kempis, 'de Imitatione Christi' II, 2, 2]

*> Sumber dan kredit kepada Shirley Hadisandjaja Mandelli's notes
https://m.facebook.com/note.php?note_id=10151539532912284 >

Dan tautan:
http://katekesekatolik.blogspot.it/ >


~ Dikutip dari : http://www.facebook.com/photo.php?fbid=549201981769952&set=a.531660003524150.110712.465760430114108&type=1 ~

Kamis, 28 Maret 2013

Puncak Liturgi Gereja Katolik - Tiga Hari Suci Paskah (Triduum Paskah)


Puncak Liturgi Gereja Katolik - Tiga Hari Suci Paskah (Triduum Paskah)


Triduum Paskah terdiri dari Kamis Suci, Jumat Agung, Sabtu Sunyi, Malam Paskah dan Minggu Paskah. Kata "triduum" berasal dari bahasa Latin yang berarti "tiga hari". Triduum Paskah dimulai pada Kamis Putih hingga berakhir pada Minggu Paskah yang bila dihitung berjumlah total tiga hari penuh, dari kamis malam hingga minggu malam.

KAMIS PUTIH

Kamis Putih adalah hari pertama dari Tri Hari Suci Paskah. Kamis Putih ini menandai dimulainya Triduum Paskah. Pada hari ini kita merayakan kembali perjamuan Malam Terakhir yang dilakukan Yesus bersama 12 Rasul.

Dikatakan sebagai perjamuan terakhir karena pada malam itu Yesus dikhianati oleh murid-Nya, Yudas Iskariot. Malam itu, Yesus menunjukkan kasih-Nya hingga rela kehilangan nyawa bagi seluruh manusia di dunia. Pada malam itu Yesus menyerahkan tubuh dan darahNya pada Bapa di Surga dalam wujud roti dan anggur yang diberikan kepada para rasul untuk memberi kekuatan bagi mereka. Yesus juga meminta apa yang Dia lakukan malam itu terus dilakukan oleh para pengikut-Nya.

Perayaan pada Hari Kamis dalam Pekan Suci ini disebut Kamis Putih karena warna liturgi hari itu didominasi warna putih. Imam mengenakan kasula (jubah luar) berwarna putih. Bunga-bunga penghias altar juga didominasi warna putih. Warna putih ini melambangkan kemuliaan dan kesucian.

Misa Kamis Putih sebaiknya dilaksanakan pada malam hari seperti  Yesus melakukannya. Istilah the Last Supper menunjukkan bahwa kegiatan tersebut dilakukan pada waktu malam. Perayaan Kamis Putih sebagai perayaan khusus perjamuan Ekaristi yang diadakan oleh Tuhan Yesus pada Perjamuan Terakhir ini ditetapkan sejak Konsili Hippo (393 M).

Ada hal yang sedikit berbeda pada Misa Kamis Putih bila dibandingkan dengan Misa yang biasa kita ikuti. Misa yang umumnya kita ikuti terdiri atas: Ritus Pembuka, Liturgi Sabda, Liturgi Ekaristi, dan Ritus Penutup. Sedangkan Misa Kamis Putih terdiri atas:
*. Ritus Pembuka
*. Liturgi Sabda dan Upacara Pembasuhan Kaki
*. Liturgi Ekaristi
*. Pemindahan Sakramen Mahakudus dan tuguran

Ritus Pembuka
Ritus pembuka diawali dengan lagu pembuka dan berakhir setelah Imam menyampaikan doa pembukaan. Hal khusus yang dilakukan pada Misa Kamis Putih adalah dibunyikannya lonceng Gereja selama umat menyanyikan Gloria / Kemuliaan. Gloria ini selama Masa Prapaskah tidak dinyanyikan. Pembunyian lonceng ini juga merupakan saat terakhir lonceng gereja dibunyikan sebelum nanti mulai dibunyikan kembali saat kita menyanyikan Gloria pada perayaan Malam Paskah.

Liturgi Sabda dan Upacara Pembasuhan Kaki
Liturgi Sabda merupakan saat bagi kita mendengarkan dan merenungkan firman Tuhan. Karena itu sikap kita yang terbaik adalah mendengarkan tanpa membaca teks yang ada. Bacaan-bacaan yang telah kita dengar itu akan dijabarkan lebih lanjut oleh Imam saat homili.
Upacara Pembasuhan Kaki yang dilakukan setelah liturgi sabda dilakukan untuk mengenangkan kembali kegiatan yang sudah dilakukan Yesus sebelum perjamuan malam terakhir dilakukan. Orang-orang yang dibasuh kakinya adalah 12 orang laki-laki sebagai lambang 12 Rasul Yesus. Pembasuhan kaki harus dilakukan oleh Imam, tidak boleh diwakilkan pada Diakon. Alasannya, karena pada saat Misa, Imam adalah “Kristus yang lain”.

Pembasuhan kaki ini sendiri merupakan adat bangsa Yahudi yang dilakukan oleh para pelayan kepada tuannya setelah mereka pulang dari berpergian sebelum makan. Tujuannya untuk membersihkan tuannya dari kotoran dan debu. Makna dari pembasuhan kaki itu sendiri bagi kita umat Katolik adalah untuk menyatakan kedatangan Yesus ke dunia bukanlah untuk dilayani melainkan untuk melayani. Dan hal inilah yang Yesus harap kita ikuti dan teladani. Upacara pembasuhan kaki ini diikuti dengan doa umat.

Liturgi Ekaristi
Liturgi Ekaristi dimulai dengan lagu persembahan. Bila ada kolekte yang dikumpulkan, dapat diiringi dengan lagu Ubi Caritas est atau lagu lain yang sesuai. Uang yang terkumpul juga sebaiknya diberikan untuk membantu yang miskin. Prefasi yang digunakan pada Misa Kamis Putih juga prefasi konsekrasi yang khusus.
Pada saat Doa Syukur Agung, Imam akan mengkonsekrasikan cukup banyak hosti untuk keperluan Misa Kamis Putih dan komuni pada saat Ibadat Jumat Agung. Karena itu, sebelum Misa Kamis Putih, tabernakel perlu dikosongkan. Hosti yang sudah dikonsekrasikan pada misa sebelumnya yang disediakan untuk keperluan memberi komuni pada orang sakit perlu dipindahkan ke tabernakel lain sebelum Misa. Pemindahan Hosti ini dilakukan tanpa upacara khusus. Liturgi Ekaristi ini berakhir pada saat Imam mengucapkan antiphon komuni.

Setelah komuni, altar dibersihkan dari segala hiasan, kain altar dibereskan, dan tempat air suci dikosongkan untuk diisi kembali saat upacara Malam Paskah. Salib besar yang ada di belakang altar juga ditutup dengan kain ungu. Pada saat ini, sudah tidak diperbolehkan lagi menggunakan musik yang meriah. Alat musik hanya dibunyikan untuk membantu petugas agar dapat menyanyikan lagu dengan baik.

Pemindahan Sakramen Mahakudus dan Tuguran
Misa Kamis Putih tidak diakhiri ritus penutup melainkan langsung dilanjutkan dengan pemindahan Sakramen MahaKudus. Sakramen MahaKudus  yang ditempatkan dalam sibori ini akan diarak ke tempat yang telah disiapkan. Tempat yang disediakan ini harus diatur sedemikian rupa agar tidak menyerupai makam atau gua. Hal ini untuk menunjukkan bahwa kita bukan bersiap-siap melakukan pemakaman Yesus melainkan mempersiapkan tempat bagi hosti yang akan dibagikan pada ibadat hari berikutnya. Prosesi pemindahan Sakramen MahaKudus ini diiringi dengan lagu Pange Lingua.

Tuguran artinya berjaga-jaga. Ya, pada malam Kamis Putih ini kita akan berjaga-jaga bersama-sama Yesus yang saat itu sedang berdoa kepada Bapa di Taman Getsemani. Pada saat tuguran ini kita berdoa bersama-sama Yesus. Menemani Yesus menantikan saat-saat dimulainya penderitaan yang harus Ia alami. Tuguran ini idealnya dilakukan sepanjang malam sampai menjelang matahari terbit. Setiap umat Katolik diharapkan beradorasi di hadapan Sakramen Mahakudus ini paling tidak selama satu jam. Hal ini sebagai tanda kesediaan kita berada bersama Yesus.

Misteri Iman yang Kita Rayakan saat Kamis Putih
Dalam Kamis  Putih, ada tiga hal misteri iman yang kita rayakan. Ketiga misteri iman tersebut adalah: 

A. Teladan Melayani
Salah satu hal yang dilakukan Yesus pada perjamuan terakhir adalah membasuh kaki para murid. Menurut tradisi Yahudi, membasuh kaki adalah salah satu bentuk penghormatan pada seseorang yang mempunyai status atau jabatan lebih tinggi atau lebih terhormat. Kaki adalah anggota tubuh yang terletak paling bawah dan biasanya paling kotor. Kaki juga penyangga seluruh tubuh kita dan dapat membantu seluruh tubuh untuk dapat bergerak.

Membasuh kaki adalah kewajiban para pelayan. Melalui peristiwa ini, Yesus mau mengajarkan mengenai penghormatan dan teladan melayani, serta mengajarkan kita untuk memperhatikan mereka yang berada paling bawah, tanpa memandang kasta. Dengan teladan pembasuhan kaki ini, Yesus juga ingin mengajarkan bahwa pada dasarnya semua manusia itu sama di mata Tuhan, memiliki hak dan martabat yang sama, sehingga karena persamaan itulah semua manusia diharap dapat saling melayani dengan penuh kasih.
 Dalam bahasa Inggris tradisional, hari Kamis Putih ini disebut Maundy Thursday. Sebutan itu diambil dari antifon pertama upacara pembasuhan kaki yang dalam bahasa Latin berbunyi: “Mandatum Novum” atau perintah baru: “Aku memberi perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi” (Yoh 13:34). 

B. Pelembagaan Awal Mula Ekaristi
Misa atau perayaan Ekaristi adalah warisan Yesus sendiri. Setiap kali kita mengikuti Misa, bagian Doa Syukur Agung sebenarnya mengenangkan kembali apa yang dilakukan Yesus pada perjamuan malam terakhir. Pada bagian konsekrasi dalam Doa Syukur Agung, Yesus menawarkan Tubuh dan Darah-Nya, yang dilambangkan dalam rupa roti dan anggur, sebagai salah satu sarana pengampunan dan kehidupan serta keselamatan kekal bagi umat manusia. Yesus telah menganugerahkan hidupNya sendiri, agar kita mampu mengabdi Tuhan dan menolak semua godaan setan. Dengan memberikan tubuh dan darah-Nya kepada kita, kita semua hidup karena Dia dan oleh Dia. 

C. Inisiasi Imamat Para Imam
Kamis Putih ini juga merupakan pesta imamat bagi para Imam. Mengapa demikian? Karena Pada perjamuan terakhir inilah untuk pertama kalinya Yesus mewujudkan peranNya sebagai imam. Pada Perjamuan Malam Terakhir, Yesus juga meletakkan dasar sakramen Imamat. Yesus memilih para rasul-Nya sebagai imam-imam dan uskup-uskup pertama, serta memberi mereka kuasa untuk mempersembahkan kurban Misa.

Pada pagi hari Kamis dalam minggu suci ini (atau pada hari lain yang masih berdekatan dengan itu), para imam yang ada di suatu keuskupan akan berkumpul di Katedral atau di gereja lain yang ditunjuk untuk bersama-sama memperbaharui janji imamat mereka. Pada kesempatan yang sama, akan diberkati pula minyak-minyak yang akan digunakan untuk sakramen krisma, sakramen perminyakan orang sakit dan katekumen. Minyak yang telah diberkati dalam misa ini akan dibawa pulang ke gereja paroki atau stasi tempat para Imam bertugas. Karena Kamis Putih merupakan juga peringatan inisiasi imamat, seluruh Imam wajib mempersembahkan misa pada hari tersebut.

Penutup
Setelah membaca artikel di atas, mungkin kita baru menyadari betapa banyak hal yang ternyata kita peringati pada hari Kamis Putih. Hari yang ditandai dengan warna putih yang menunjukkan kemuliaan ini juga menjadi awal bagi banyak hal. Meski di hari berikutnya Yesus menjalani penderitaan, kita dapat terus percaya bahwa Yesus telah meninggalkan warisan terbaik untuk kita.

JUMAT AGUNG

Apa yang berbeda di gereja atau di tempat lain saat Jumat Agung? Suasana yang sunyi, nyanyian tanpa musik, altar yang kosong, tabernakel terbuka lebar, lampu merah yang menandakan kehadiran Tuhan dipadamkan. Ya, Jumat Agung adalah hari di mana kita memperingati sengsara dan wafat Kristus. Pada hari itu, seluruh umat Katolik diharapkan untuk bertobat melalui tindakan pantang dan puasa. Satu hal penting yang perlu dipahami adalah seluruh perayaan yang kita lakukan pada Jumat Agung bukanlah Perayaan Ekaristi melainkan ibadat.

Mengapa demikian? Karena pada hari Jumat Agung, tidak ada peristiwa konsekrasi yang biasa dilakukan Imam saat Doa Syukur Agung. Pada hari Jumat Agung itu, justru Yesus sendiri yang dikorbankan sebagai penyelamat manusia. Komuni yang dibagikan pada ibadat Jumat Agung adalah Hosti yang telah dikonsekrasikan pada malam sebelumnya (Kamis Putih). Hal khusus lain yang perlu diperhatikan, sakramen yang boleh diberikan pada hari Jumat Agung hanyalah Sakramen Tobat/Rekonsiliasi dan sakramen perminyakan orang sakit.

Bagian-bagian Ibadat Jumat Agung
Ibadat Jumat Agung sebaiknya dilakukan pada sore hari atau pada waktu yang dianggap pas, asal tidak lewat dari jam 9 malam. Maksud pengaturan jam tersebut agar kita sebagai umat dapat lebih memaknai wafat Yesus yang terjadi sekitar pukul 15.00. Ibadat Jumat Agung sendiri terdiri dari 3 bagian inti:

A. Ibadat Sabda
Ibadat Sabda adalah bagian awal dari Ibadat Jumat Agung. Ibadat Sabda terdiri atas beberapa bagian: perarakan Imam dan petugas misa, pembacaan sabda Tuhan, Passio Yesus Kristus, homili/waktu hening, dan doa umat meriah.

Ibadat Sabda diawali dengan perarakan Imam dan para misdinar. Perarakan ini dilakukan tanpa suara, tanpa lagu. Pada saat berada di depan altar yang kosong, imam dan petugas misa akan menelungkup di tanah selama beberapa saat sambil mengucapkan doa dalam hati. Tindakan ini sebagai tanda rendahnya martabat manusia dan duka mendalam yang sedang dialami Gereja. Setelah Imam dan para misdinar duduk, mulai dibacakan bacaan pertama yang dilanjutkan dengan dinyanyikannya mazmur tanggapan serta pembacaan bacaan kedua. Bacaan Injil diambil dari Injil Yohanes. Bacaan Injil yang menceritakan kisah sengsara Yesus ini dibacakan dengan cara dilagukan oleh tiga orang petugas yang mengambil peran sebagai narator, Yesus, dan beberapa peran lain. Sebelum menyanyikan Passio Yesus Kristus, para petugas ini akan diberkati terlebih dahulu oleh Imam yang memimpin ibadat. Pada beberapa ibadat, kadangkala Imam ikut berdiri bersama petugas Passio. Passio Yesus Kristus ini diikuti dengan homili singkat atau waktu hening untuk merenungkan wafat Kristus.

Homili atau waktu hening ini akan diikuti dengan doa umat meriah. Intensi doa umat pada ibadat Jumat Agung ini cukup banyak. Intensi yang didoakan saat doa umat meriah ini adalah intensi umum gereja dan intensi-intensi yang disesuaikan dengan kepentingan gereja lokal di mana ibadat Jumat Agung dilaksanakan. Intensi doa ini dinyanyikan oleh Imam atau diakon sedangkan pada bagian doa dapat dibacakan bersama dengan umat. Saat intensi doa dinyanyikan umat berlutut. Umat berdiri saat doa dibacakan.

B. Penghormatan / Penciuman Salib
Upacara penghormatan salib ini ditandai dengan perginya Imam atau Diakon dan misdinar keluar untuk mengambil salib yang akan diarak masuk ke dalam gereja. Tidak ada ketentuan mengenai ukuran dan jenis kayu yang digunakan. Namun, perlu diperhatikan makna perarakan salib itu sebagai tempat di mana Yesus telah wafat untuk membebaskan manusia dari dosa. Salib ini dipanggul oleh Imam atau Diakon dan diarak dari bagian belakang gereja atau tempat ibadat menuju altar.

Pada saat perarakan salib, ada tiga tempat di mana kayu salib berselubung kain ungu yang dipanggul akan diangkat untuk ditunjukkan kepada umat. Di bagian belakang gereja, bagian tengah gereja, dan di depan altar. Pada saat kayu salib diangkat, Imam akan melagukan ajakan pada umat untuk melihat pada kayu salib. Umat diharap menjawab ajakan itu. Pada setiap selesai ajakan, perlu diberi waktu hening sebentar agar umat dapat merenungkan wafat Kristus. Selain itu, pada setiap perhentian, selubung kain ungu dibuka satu per satu hingga saat di depan altar, salib tidak diselubungi kain ungu lagi. Setelah salib diletakkan di depan altar, Imam serta diakon dan para misdinar akan mencium salib sebagai tanda penghormatan dan cinta. Selanjutnya Imam akan memegang salib tersebut dan memberi kesempatan pada umat untuk memberi penghormatan pada salib. Pada ibadat Jumat Agung yang dihadiri oleh banyak umat, misdinar dapat membantu proses penghormatan salib dengan membawa salib-salib lain untuk dapat dihormati oleh umat. Selama upacara penghormatan salib, dinyanyikan lagu-lagu atau himne untuk mengenangkan misteri keselamatan. Penghormatan terhadap salib yang paling umum dilakukan adalah mencium salib. Namun ada negara memiliki tradisi meletakkan rangkaian bunga di salib. 

C. Komuni
Bagian terakhir dari ibadat Jumat Agung adalah Komuni. Sebelum upacara komuni ini berlangsung, misdinar akan memberi kain putih di altar yang tadinya kosong. Altar perlu diberi alas karena pada upacara komuni ini akan diletakkan Hosti yang telah dikonsekrasikan pada misa malam sebelumnya. Hosti yang diletakkan dalam sibori diarak masuk ke dalam gereja oleh Imam atau Diakon dengan diiringi oleh 2 orang misdinar membawa lilin.

Upacara komuni diawali dengan ajakan Imam untuk menyanyikan doa Bapa Kami. Selama ibadat Jumat Agung, tidak ada salam damai. Setelah doa Bapa Kami, Imam akan langsung mengucapkan ritus komuni seperti yang kita kenal bila mengikuti Misa harian atau Misa hari Minggu. Setelah pembacaan ritus komuni, hosti dibagikan kepada umat. Bila ada hosti yang sisa, hosti yang diletakkan dalam sibori itu akan kembali diarak untuk diletakkan di tempat penyimpanan semula. Setelah Hosti dikembalikan ke tempat penyimpanan semula, kain putih altar dapat dilipat kembali.

Bagian terakhir dari Upacara Komuni yang juga merupakan penutup ibadat Jumat Agung adalah doa dan berkat penutup. Setelah memberikan berkat penutup, Imam dan petugas lain akan meninggalkan altar tetap dalam suasana hening tanpa nyanyian. Salib ditinggalkan di depan altar bersama beberapa lilin menyala agar umat dapat terus menghormati dan berdoa hening.

Penutup
Jumat Agung mungkin memang hari paling menyedihkan dalam Gereja Katolik, karena pada hari itu kita mengenangkan wafat Kristus. Pada hari itu kita diingatkan bahwa kita adalah pendosa namun dosa-dosa kita telah ditebus melalui kematian Yesus di kayu salib. Karena itu, layaklah bila kita menunjukkan rasa hormat kita dengan mempersembahkan seluruh dosa kita kepada Tuhan melalui sakramen rekonsiliasi. Melalui penerimaan sakramen rekonsiliasi, kita dilahirkan menjadi manusia baru yang memiliki hubungan erat dengan Tuhan.

SABTU SUNYI

Setelah hari jumat kita mengikuti Ibadat Jumat Agung untuk mengenangkan sengsara dan wafat Kristus, pada hari Sabtu pagi sampai menjelang malam, Gereja seperti tidak melakukan kegiatan peribadatan apapun. Tabernakel masih terbuka dan lampu Tuhan juga masih mati. Selain itu, kalau kita perhatikan, tempat air suci di pintu-pintu masuk gereja juga dikeringkan. Suasana terasa muram. Sakramen yang boleh dibagikan pada hari tersebut pun hanya sakramen tobat dan sakramen perminyakan orang sakit. Mengapa demikian? Gereja memang tidak melakukan kegiatan peribadatan apa pun selama Sabtu Sunyi karena Gereja sedang mengenangkan Yesus yang berada di dalam makam. Sepanjang pagi sampai sore di hari Sabtu itu, Gereja mengajak umat untuk hening dan merenungkan sengsara dan wafat Kristus; mengetahui bahwa Yesus sedang turun ke dunia orang mati; dan menanti dengan penuh kerinduan kebangkitan Yesus dengan berdoa dan berpuasa. Rahmat khusus dari Sabtu sunyi adalah keheningan yang penuh kasih dan harapan.

Sebenarnya misteri apa yang kita kenangkan saat Sabtu Sunyi dan siapa yang kita teladani?

Saat Sabtu Sunyi kita mau mengenangkan terpenuhinya rencana Allah bagi kita. Allah sangat mencintai kita dengan mengirimkan Putera-Nya sendiri bagi kita. Itu artinya Allah telah mengangkat kita menjadi anak-anak-Nya. Sabtu Sunyi memang terkesan kosong tapi itu sebenarnya adalah hari istirahat Kristus. Ya, Kristus telah menyelesaikan semua tugas yang harus Ia emban. Pada hari Sabtu Sunyi, Yesus beristirahat dalam makam karena Ia telah memperoleh kemenangan. Yesus perlu beristirahat untuk menantikan waktu kebangkitan-Nya.

Kita umat Katolik percaya bahwa Yesus benar-benar wafat. Jiwa-Nya benar-benar terpisah dari raga-Nya. Pada saat raga Yesus beristirahat dalam makam, jiwa Yesus turun ke dunia orang mati mencari Adam dan Hawa. Yesus menarik mereka keluar dari dunia orang mati. Hal ini merupakan tanda Yesus memberi kehidupan baru bagi Adam dan Hawa, kehidupan baru inilah yang kita terima pada hari Sabtu Sunyi. Selain mencari Adam dan Hawa, Yesus juga turun ke dunia orang mati untuk mengunjungi semua orang yang telah datang sebelum Dia untuk mewartakan sukacita kebangkitan. Tokoh yang dapat kita teladani dalam menjalani Sabtu Sunyi adalah Bunda Maria. Setelah Yesus wafat di kayu salib, Bunda Maria pulang bersama Yohanes. Bunda Maria tinggal di rumah Yohanes sebagaimana permintaan Yesus saat berada di salib.

Kita bisa membayangkan kesedihan mendalam yang dialami Bunda Maria karena Puteranya telah wafat. Namun, Bunda Maria tidak terus menerus bermuram durja. Ia berdoa menantikan pemenuhan janji keselamatan dari Allah. Kita umat Katolik diharapkan menjalani Sabtu Sunyi seperti Bunda Maria. Kita diharapkan untuk berdoa dalam suasana hening menantikan dengan rindu kebangkitan Kristus.

MALAM PASKAH

Berbeda dengan suasana Sabtu Sunyi yang hening. Malam Paskah adalah saat di mana kita merasakan sukacita sambil berjaga-jaga menantikan kebangkitan Tuhan. Yesus yang wafat akhirnya beralih dari alam kematian menuju kebangkitan. Pada perjanjian lama, Malam Paskah merupakan peristiwa penantian lewatnya Tuhan di tanah Mesir untuk membebaskan bangsa Israel dari perbudakan Firaun. Saat Malam Paskah ini umat Katolik juga akan mengenangkan kembali Sakramen Babtis yang telah diterima. Sakramen Baptis sendiri merupakan tanda diterimanya kita sebagai anggota keluarga Gereja Katolik. Karena itulah, Malam Paskah selalu dirayakan secara meriah.

Malam Paskah dapat juga disebut dengan vigili Paskah. Vigili berasal dari kata bahasa Latin vigilis yang artinya berjaga-jaga atau bersiap-siap. Karena itu, pada perayaan malam Paskah ini kita berjaga-jaga bersama Yesus. Bersiap-siap menantikan peralihan Yesus dari alam kematian menuju kehidupan.

Untuk dapat lebih memaknai peristiwa penantian kebangkitan Tuhan itu, akan lebih baik bila misa Malam Paskah dilaksanakan pada malam hari sampai sebelum fajar menyingsing. Intinya, jangan sampai perayaan pada Malam Paskah mengganggu misa yang akan dilaksanakan pada Minggu Paskah. Karena misa pada Minggu Paskah adalah misa yang penting untuk diikuti. Perayaan Malam Paskah seringkali dikatakan sebagai perayaan terpanjang dalam liturgi Gereja Katolik. Hal itu disebabkan banyaknya simbol/lambang liturgis yang dikenangkan saat perayaan ini dilakukan. Tata cara perayaan malam Paskah yang saat ini dijalankan oleh Gereja Katolik didasarkan pada dekrit Ad Vigiliam Paschalem (tentang Vigili Paskah) yang dikeluarkan oleh Paus Pius XII pada tahun 1951.
Berdasarkan dekrit tersebut, perayaan malam Paskah tersusun atas 4 bagian besar, yaitu:
A. Upacara Cahaya
Bagian pertama dari perayaan Malam Paskah adalah upacara cahaya dan Madah Pujian Paskah. Bagian ini penuh dengan tindakan dan gerakan simbolik. Karena itulah, upacara cahaya selalu diawali dengan penjelasan singkat tentang maksud diadakannya perayaan Malam Paskah secara keseluruhan. Tujuannya agar umat mengerti dan akhirnya dapat mengikuti keseluruhan perayaan dengan baik.

Upacara cahaya sebaiknya dilakukan di luar gereja, dalam kondisi gelap gulita. Saat upacara cahaya, Imam memberkati api baru yang saat dinyalakan langsung mengusir kegelapan dan memberikan terang ke sekeliling tempat upacara cahaya itu dilakukan. Hal ini diibaratkan seperti Yesus yang merupakan cahaya terang dalam kehidupan kita yang kadang kala gelap. Setelah memberkati api baru, Imam akan memberkati lilin Paskah yang akan dinyalakan selama masa Paskah pada saat perayaan Ekaristi di Gereja. Lilin Paskah yang digunakan haruslah lilin yang baru dan ukurannya disesuaikan untuk keperluan masa Paskah. Pada lilin Paskah itu Imam menorehkan tanda salib (+), lambang alpha (Α) dan omega (Ω) dan angka tahun di mana perayaan Malam Paskah dilakukan. Tindakan Imam tersebut untuk menegaskan bahwa Yesus telah ada sejak dulu sampai sekarang, bahwa Ia adalah sang awal dan sang akhir, dan bahwa segala kemuliaan dan kekuasaan adalah milik Yesus sepanjang segala abad. Setelah itu Imam akan menancapkan 5 biji dupa di atas gambar salib yang dikelilingi lambang alpha – omega dan angka tahun. Kelima biji dupa itu melambangkan 5 luka Yesus yang didapat saat Ia disalib. Setelah menancapkan biji-biji dupa, Imam akan menyalakan lilin Paskah tadi dengan api yang telah diberkati.

Lilin Paskah yang telah dinyalakan kemudian akan diarak masuk oleh Imam/Diakon ke dalam gereja. Umat mengikuti di belakang. Saat perarakan, tidak ada penerangan lain yang dinyalakan. Peristiwa ini untuk mengenangkan kembali perjalanan bangsa Israel di padang gurun setelah keluar dari tanah Mesir. Pada waktu malam mereka hanya dibimbing oleh tiang api. Selain itu, tidak adanya penerangan lain selain lilin Paskah juga melambangkan kita sebagai umat Kristiani yang mengikuti Kristus, satu-satunya Sang Terang, yang telah bangkit. Pada saat perarakan ini lilin akan 3 kali diangkat (di awal perarakan, di tengah, dan di depan altar) sambil menyanyikan “Kristus, cahaya dunia” dan dijawab dengan nyanyian pula oleh umat “Syukur kepada Allah” sambil berlutut.

Sesampai di depan altar, lilin Paskah diletakkan di tempatnya. Lalu lilin yang telah dibawa oleh petugas misa dan umat dapat dinyalakan menggunakan api yang berasal dari lilin Paskah. Berkaitan dengan hal ini, kadang ada umat yang tidak sabaran lalu menyalakan lilin menggunakan korek api yang dia bawa. Hal ini tidak diperkenankan karena menyalakan lilin kita menggunakan api dari lilin Paskah menjadi pertanda bahwa kita adalah penerus karya Kristus di dunia. Kita diharapkan juga dapat menjadi terang bagi orang lain karena kita telah diterangi oleh Yesus sendiri. Lilin Paskah ini sendiri akan dinyalakan selama masa Paskah sampai pada sore hari menjelang Pesta Kenaikan Tuhan. Lilin Paskah yang dinyalakan terus-menerus ini melambangkan Yesus yang telah bangkit namun tetap hadir di tengah murid-muridNya. Setelah Imam dan para penolongnya sampai di panti imam (panti imam adalah tempat di sekitar altar yang hanya diperuntukkan bagi Imam, diakon dan misdinar), Imam atau diakon akan menyanyikan Madah Pujian Paskah (Exultet). Madah Pujian Paskah ini mewartakan keseluruhan misteri Paskah yaitu kisah keselamatan umat manusia karena dosa-dosa manusia telah ditebus oleh Yesus sendiri.

B. Liturgi Sabda
Bagian kedua dari upacara malam Paskah adalah Liturgi Sabda. Pada bagian ini dibacakan ayat-ayat dari perjanjian lama dan perjanjian baru. Seluruh bacaan ini diselingi dengan mazmur dan doa singkat yang dipimpin oleh Imam agar umat dapat merenungkan misteri keselamatan dengan baik. Secara keseluruhan terdapat 9 bacaan pada liturgi sabda yang terdiri atas 7 bacaan perjanjian lama dan 2 dari perjanjian baru (1 bacaan dari Surat Paulus kepada jemaat di Roma dan 1 bacaan Injil). Keseluruhan bacaan Perjanjian Lama, bila dibaca secara lengkap menceritakan kisah penyelamatan mulai dari kisah penciptaan dunia hingga pewartaan janji keselamatan Allah oleh para nabi. Untuk beberapa alasan, bacaan dari Perjanjian Lama kadang kala tidak seluruhnya dibacakan saat misa di gereja. Namun ada 3 bacaan dari Perjanjian Lama yang wajib dibacakan yaitu Kisah Penciptaa, Kisah Pengorbanan Ishak oleh Abraham, dan penyeberangan Laut Merah. Setelah selelsai membaca bacaan dari Kitab Perjanjian Lama, Gloria (Madah Kemuliaan) dinyanyikan secara meriah sambil membunyikan lonceng. Sebelum menyanyikan Gloria, lilin altar dan lampu gereja dapat dinyalakan sedangkan lilin umat yang tadi dinyalakan dapat dipadamkan.

Bacaan setelah Gloria diambil dari surat Paulus kepada umat di Roma. Bacaan ini disebut bacaan epistola. Bacaan epistola ini mengingatkan kita kembali sebagai murid-murid Yesus yang telah menerima babtisan ikut mati bersama Dia dan akan dibangkitkan pula bersama Dia. Jadi bacaan ini mendorong kita lebih jauh dalam misteri Paskah.

Alleluya pada bait pengantar Injil yang dinyanyikan setelah bacaan epistola. Alleluya dilagukan 3 kali dan tiap kali nadanya dinaikkan. Alleluia ini dilagukan oleh Imam atau Diakon atau bila tidak memungkinkan oleh petugas. Teks bait pengantar Injil diambil dari Mazmur 117. Injil yang dibacakan pada malam Paskah ini mewartakan kebangkitan Tuhan. Bacaan Injil ini merupakan puncak dari liturgi sabda. Setelah Injil dibacakan, Imam akan memberikan homili.

C. Liturgi Babtis
Liturgi Babtis merupakan bagian ketiga dari perayaan Malam Paskah. Pada bagian ini kita merayakan perjalanan Yesus dan perjalanan kita sendiri. Perjalanan dibersihkannya kita dari dosa asal. Di Gereja-gereja yang memiliki bejana babtis, bagian ini akan terasa istimewa. Apalagi bila ada pada perayaan Malam Paskah itu dilakukan pembabtisan bagi katekumen yang sudah menjalani masa persiapan selama sekitar satu tahun.

Liturgi babtis diawali dengan pemberkatan air yang ada dalam bejana babtis. Setelah itu akan dinyanyikan Litani Para Kudus. Nama Santo dan Santa yang disertakan dalam Litani Para Kudus ini dapat disesuaikan dengan keperluan gereja setempat. Hal yang istimewa adalah bila pada perayaan Malam Paskah ada penerimaan Sakramen Babtis, nama Santo dan Santa yang digunakan oleh para calon babtis sebagai nama babtis sebaiknya disertakan saat menyanyikan Litani Para Kudus. Litani Para Kudus ini diikuti dengan pemberkatan air suci.

Pada bagian ini, lilin Paskah akan dicelupkan tiga kali ke dalam air yang diletakkan dalam bejana babtis. Pemberkatan air itu menjadi tanda pengudusan air suci karena telah dipersatukan dengan Yesus, Sang pemberi hidup baru. Air yang telah dicelupi lilin paskah ini nanti akan digunakan untuk keperluan penerimaan Sakramen Babtis pada perayaan Malam Paskah atau disimpan pada bejana babtis untuk keperluan penerimaan Sakramen Babtis pada kesempatan-kesempatan lain. Ada atau tidak ada calon babtis yang akan menerima Sakramen Babtis pada Perayaan Malam Paskah, air yang telah diberkati melalui pencelupan lilin Paskah tersebut akan direcikkan kepada umat yang hadir untuk mengingatkan kembali kehidupan baru yang telah diterima melalui babtis.

Pemberkatan air suci akan diikuti dengan penerimaan Sakramen Babtis pada calon Babtis. Upacara penerimaan Sakramen Babtis ini akan diikuti dengan pembaharuan janji babtis. Saat mengucapkan pembaharuan janji babtis ini, sekali lagi lilin yang dibawa umat dinyalakan menggunakan api yang berasal dari lilin Paskah. Pembaharuan janji babtis ini menjadi tanda kesiapsediaan kita untuk berbalik dari segala dosa kita dan kembali keoada Tuhan. Setelah mengucapkan pembaharuan janji babtis, umat akan direciki dengan air suci. Liturgi Babtis ini diakhiri dengan doa umat.

D. Liturgi Ekaristi
Liturgi Ekarist yang menjadi bagian akhir dari perayaan Malam Paskah merupakan puncak dari keseluruhan liturgi Paskah. Pada bagian ini kita merayakan kembali pengurbanan Yesus di kayu salib, hadirnya Kristus yang telah bangkit. Pemenuhan inisiasi umat Kristiani, dan penantian akan Paskah abadi. Perlu ditekankan agar bagian ini tidak dilakukan dengan tergesa-tergesa. Terutama bila pada perayaan Malam Paskah ada Upacara Babtis. Hal ini penting karena para babtisan baru itu untuk pertama kalinya mengikuti liturgi Ekaristi sebagai anggota penuh gereja.

Liturgi Ekaristi diawali dengan persembahan, yang dilanjutkan prefasi Paskah dan Doa Syukur Agung. Doa Syukur Agung ini sebaiknya dilagukan. Komuni yang dibagikan pada kesempatan Malam Paskah ini bila memungkinkan dapat diberikan dalam dua rupa, hosti dan anggur. Pada kesempatan ini pula, para babtisan baru akan menerima Sakramen Ekaristi pertama mereka.

Bagian akhir dari Liturgi Ekaristi Malam Paskah yang juga menutup keseluruhan rangkaian perayaan Malam Paskah adalah pemberian Berkat Meriah Paskah. Berkat meriah ini diberikan dengan cara dilagukan bersahut-sahutan antara Imam dan umat. Berkat meriah Paskah diakhiri dengan perutusan.
Dikarenakan pentingnya Malam Paskah ini, setiap petugas yang terlibat sangat diharapkan untuk berlatih terlebih dahulu. Imam yang memimpin perayaan Paskah ini juga diharapkan memiliki pemahaman mendalam tentang keseluruhan liturgi yang berlangsung pada perayaan ini.

MINGGU PASKAH

Minggu Paskah disebut juga Hari Raya Kebangkitan Tuhan. Hari ini adalah puncak peringatan liturgi Gereja Katolik. Hari Raya Kebangkitan Tuhan ini adalah hari raya dari segala hari raya. Hari itu menjadi hari yang amat istimewa karena Yesus telah bangkit dari kematian. Yesus telah mengalahkan dosa dan maut dengan kebangkitan-Nya. Melalui kebangkitan-Nya, Yesus mau menunjukkan bahwa Ia sungguh-sungguh Putera Allah dan memberi harapan pada kita tentang adanya kerajaan Surga. Hal yang membedakan perayaan Ekaristi pada hari ini dengan perayaan Ekaristi pada hari Minggu atau hari raya yang lain adalah digantinya seruan tobat dengan pemercikan air suci. Air suci yang digunakan untuk memerciki umat adalah air yang telah dikuduskan pada perayaan Malam Paskah. Air itu pula yang ditempatkan di pintu masuk gereja untuk digunakan umat menyucikan diri saat akan memasuki gereja.

Selain adanya pemercikan air suci, pada hari ini juga dilagukan Madah Paskah yang mewartakan kebangkitan Yesus. Madah Paskah ini dilagukan sebelum bait pengantar Injil.

Lilin Paskah yang telah dinyalakan dengan Api Baru pada perayaan Malam Paskah ditempatkan di posisi yang cukup tinggi dekat  altar. Lilin Paskah ini dinyalakan sepanjang masa Paskah yang berlangsung selama 50 hari pada saat ibadat pagi atau sore atau bila ada perayaan Ekaristi. Bila masa Paskah telah berakhir, lilin Paskah ini tetap disimpan dan dinyalakan bila ada upacara penerimaan Sakramen Babtis. Lilin calon babtis akan dinyalakan menggunakan api dari lilin Paskah ini. Pada Upacara pemakaman, lilin Paskah sebaiknya dinyalakan di dekat peti sebagai tanda bahwa kematian juga merupakan suatu perjalanan bagi orang Kristiani. Lilin Paskah ini sebaiknya tidak ditempatkan atau dinyalakan di panti Imam pada masa di luar masa Paskah.

PENUTUP
Tiga hari Suci (Triduum) Paskah: Kamis Putih, Jumat Agung, Malam Paskah hingga Hari Raya Kebangkitan Tuhan adalah saat-saat terpenting dalam tahun liturgi Gereja Katolik. Pada hari-hari itu kita diingatkan kembali bahwa Yesus bersedia mati untuk menebus dosa-dosa kita dan dibangkitkan. Karena itu, kematian bukan lagi akhir dari hidup kita melainkan awal dari kehidupan baru. Selamat Paskah, selamat menjalani kehidupan baru dalam Tuhan.


Sumber:
Circular Letter Concerning the Preparation and Celebration of the Easter Feast Congregation for Divine Worship
Bahan pengajaran Liturgi Triduum Komunitas Emmanuel
diketik ulang oleh Indonesian Papist

PAX ET BONUM


Puncak Liturgi Gereja Katolik - Tiga Hari Suci Paskah (Triduum Paskah) | Indonesian Papist http://www.indonesianpapist.com/2011/03/puncak-liturgi-gereja-katolik-tiga-hari.html#ixzz2OnXiWKoR 
Pax et Bonum